Archive for July, 2007

13
Jul

Satu Bahasaku, Bahasa Indonenglish!

Saya menemukan artikel ttg bahasa Indonesia dari kompas. Isinya mirip artikel beberapa waktu lalu yg berjudul Cuap-cuap Tentang Bahasa, tapi dilihat dari sudut yang lain, terutama dari maraknya penggunaan bahasa Inggris yang bercampur dgn bahasa Indonesia. Saya sendiri terkadang mendengar pembicaraan yang menggunakan bahasa Indonesia dan Inggris bergantian, kalimat demi kalimat, atau antara kata dalam satu kalimat. Memang aneh kalau dipikir2, buku yang judulnya bahasa Inggris ternyata dalamnya bahasa Indonesia. Padahal pada kenyataannya kebanyakan penduduk Indonesia tidak paham bahasa Inggris, atau hanya mengerti beberapa kata saja, tidak paham kalau satu kalimat penuh dalam bahasa Inggris. Berikut ini artikelnya:

Apa yang salah dengan bahasa Indonesia? Mengapa segenap orang yang mengaku berbangsa dan bernegara Indonesia tidak pernah bangga terhadap bahasa bangsa yang telah disepakati bersama sejak 28 Oktober 1928 itu?

Terus terang saja, masalah pemakaian bahasa Indonesia yang tidak pernah baik dan benar (sehingga pemerintah perlu menggembar-gemborkan anjuran untuk berbahasa Indonesia yang baik dan benar) itu bukan hal baru lagi. Sudah tak terhitung lagi artikel, makalah, berita, seminar, dan karikatur yang dibuat untuk menyentil pemakaian bahasa Indonesia yang centang perenang atau karut marut.

Salah satu gejala paling nyata pemakaian bahasa kita yang tak pernah beres itu adalah lebih sukanya orang-orang Indonesia menggunakan bahasa asing, terutama bahasa Inggris, untuk mengungkapkan idenya. Dari percakapan sehari-hari sampai nama kompleks perumahan, orang Indonesia banyak memakai bahasa Inggris.

Saking parahnya gejala ini, pada masa 1980-1990-an pemerintah otoriter Orde Baru menerapkan keotoriterannya untuk menertibkan pemakaian bahasa. Gubernur Jawa Tengah H Ismail pada tahun 1983 pernah melarang pemberian nama toko dan perusahaan yang ke-inggris-inggris-an di Semarang dan kota-kota lain di Jawa Tengah.

Pada pertengahan tahun 1990, pemerintah pusat mulai gatal terhadap maraknya penamaan kompleks perumahan mewah, toko, supermarket, mal, dan gedung perkantoran dengan bahasa Inggris. Pemerintah kemudian menganjurkan untuk mengganti nama-nama itu menjadi nama Indonesia, atau paling tidak, dalam ejaan Indonesia.

Anjuran pemerintah pada waktu itu sama artinya dengan perintah yang tidak bisa ditawar lagi. Maka, masa itu ditandai dengan berubahnya nama kompleks perumahan Green Garden menjadi Gren Gaden, Citra Grand menjadi Citra Gren, toko swalayan Indomart menjadi Indomaret (pakai ”e”), dan Citraland Mall menjadi Mal Ciputra, yang semuanya berbau-bau ”maksa”. Di Semarang, saking maksanya, sebuah penginapan bernama Hotel Queen harus ganti nama jadi Hotel Quirin.

Namun, cara-cara represi semacam itu selalu tidak pernah menyelesaikan masalah secara tuntas. Buktinya, begitu pemerintah Orba tumbang pada tahun 1998, ”hobi” orang Indonesia untuk ber-Inggris ria kembali kambuh, bahkan bertambah parah.

Sekarang ini, hampir setiap pusat perbelanjaan, apartemen, kompleks perumahan, kafe, restoran, pusat perkantoran, hingga toko buku yang baru buka, semuanya berlomba-lomba memakai bahasa Inggris.

Di antara yang paling terkenal di Jakarta ini, kita pasti tahu nama Cilandak Town Square yang suka disingkat Citos, Dharmawangsa City Square, The Pakubuwono Residence, Setiabudi One, QB World Books, dan yang terbaru ada Cibubur Junction.

Bahkan, salah satu pusat pertokoan baru di pusat kota Jakarta yang namanya mengikuti kaidah ”diterangkan-menerangkan” (DM) yang digunakan bahasa Indonesia, yakni Plaza Semanggi, masih sempat-sempatnya ditambahi kata ”the” di depannya, jadi lengkapnya The Plaza Semanggi.

Belakangan, ”virus” bahasa Inggris itu turut menjangkiti para penulis buku dan pembuat film. Buku populer yang umumnya berisi cerita fiksi remaja banyak yang judulnya memakai bahasa Inggris. Padahal dikarang oleh penulis asli Indonesia dan seluruh isinya ditulis dalam bahasa Indonesia.

Beberapa judul buku ini antara lain Jakarta Undercover karangan Moammar Emka yang laris bak pisang goreng. Ada juga Me Vs High Heels karya Maria Ardelia dan Eiffel, I’m In Love karangan Rachmania Arunita yang dua-duanya sudah dibuat film layar lebar berjudul sama.

Judul film Indonesia juga bertaburan kata bahasa Inggris, sebut saja Virgin, Seventeen, The Soul, Cinta Silver, dan masih banyak lagi. Acara televisi pun tak mau kalah. Di TransTV setiap Minggu siang ditayangkan Streetball, yang menampilkan modifikasi olahraga bola basket. Acara itu dibawakan sebagian besar dalam bahasa Inggris oleh pembawa acara maupun komentator pertandingannya.

Sementara MetroTV sudah lebih dulu memberi nama acaranya dengan bahasa Inggris, seperti Headline News, Breaking News, Famous to Famous, dan Market Review. Di sebuah stasiun TV lokal JakTV, ada acara yang judulnya My City, My TV.

Jauh lebih parah lagi, pejabat pemerintah, yang dulu getol memerangi gejala ke-inggris-inggris-an, sekarang justru menjadi tokoh utama pemakaian bahasa Indonesia campur Inggris itu. Sampai belakangan ini pun, ada seorang pejabat tinggi negara yang setiap kali dikritik suka sekali menjawab dengan kalimat pendek, ”I don’t care!”.

Alasan dagang

Sebagian besar pemakai bahasa Inggris itu mengaku alasannya untuk memenuhi tuntutan pasar.

Chand Parwez Servia, Presiden Direktur PT Kharisma Starvision Plus, menjadi produser beberapa film dengan judul bahasa Inggris, seperti The Soul, Seventeen, Virgin, sampai Me Vs High Heels. Alasan membuat judul dalam bahasa Inggris diakui untuk mempermudah pemasaran di tingkat internasional.

Demi mempersiapkan diri menghadapi pasar internasional, Chand Parwez pun membuat judul dalam bahasa Inggris. ”Misalnya film saya yang berjudul Kafir. Orang di luar negeri enggak ngerti apa itu kafir, kalau Satanic, mereka baru mengerti,” kata Chand.

Bahasa Inggris sebagai judul juga dianggap memberikan nilai eksklusif bagi para penonton kelas menengah atas yang telah mengeluarkan uang untuk menonton. Ia mencontohkan, dua filmnya terbaru akan diberi judul Missing dan Get Married. ”Kalau orang nanya, eh, mau nonton apa? Terus jawabnya Kawin Yuk! kan enggak keren. Beda kalau Get Married, kan ada sesuatu yang membuat mereka merasa worth it mengeluarkan uang,” kata Chand.

Berbeda dengan Chand, Raam Soraya, Direktur Soraya Intercine Film yang memproduksi Eiffel, I’m In Love, mengatakan, judul bahasa Inggris tersebut memang diambil dari novel dengan judul sama. ”Kalau judul filmnya beda, ntar enggak dikenal dong,” kata Raam.

Ia mengatakan, film-film Soraya Intercine selalu berusaha menggunakan bahasa Indonesia. Karena, menurut dia, tidak ada alasan untuk komersial atau pangsa pasar anak muda lebih menyukai atau lebih akrab dengan bahasa Inggris.

Sementara itu, Kepala Departemen News Magazine MetroTV Retno Shanti mengatakan, salah satu alasan pemakaian bahasa Inggris adalah idealisme MetroTV untuk turut mencerdaskan masyarakat Indonesia. ”Selain itu, kami berkeinginan suatu saat MetroTV tidak hanya siaran di Indonesia saja, tetapi juga di luar negeri. Bahkan, beberapa acara produksi kami sudah dibeli TV luar negeri,” ujar Shanti sambil menyebut beberapa nama acara, yakni Expedition, Oasis, Archipelago, dan Periscope, yang dibeli sebuah stasiun TV di Belanda.

Manajer Humas Lippo Karawaci Jeanny Wullur juga mengaku sulit untuk mengubah sebuah kompleks restoran dan kafe Benton Junction menjadi Persimpangan Benton atau Perempatan Benton. Salah satu alasannya karena nama Benton sendiri memang nama asing.

”Nama itu kami buat sebagai dedikasi untuk Roger Benton, Senior Advisor Lippo Karawaci yang merancang tata kota Lippo Karawaci. Lagian, ini zaman global, repot juga kalau kita tetep keukeuh menggunakan bahasa Indonesia 100 persen,” ujarnya menjelaskan.

Sementara itu, menurut Direktur Toko Buku Quality Buyers World (biasa disingkat QB World) Indonesia Richard Oh, penggunaan kata-kata bahasa Inggris untuk menamai tokonya bukanlah sekadar keren-kerenan atau pamer kata-kata asing.

”Namanya juga merek dagang, tak bisa disamakan dengan penggunaan bahasa asing dalam percakapan sehari-hari. Kami biasa menyingkat Quality Buyers World menjadi QB karena enak didengar dan mudah diucapkan,” papar Richard menjelaskan.

Penulis beberapa buku berjudul bahasa Inggris, seperti Jakarta Undercover, Sex ’n The City, dan Red Diary, Moammar Emka mengakui, judul bahasa Inggris lebih ”simple tetapi dapet” dibandingkan dengan judul bahasa Indonesia. Sejak awal, pemilihan bahasa Inggris dalam beberapa judul bukunya memang dilakukan untuk memancing keakraban di telinga pembaca.

Gejala ini tidak hanya terjadi di Jakarta saja, tetapi juga di daerah. Wiwien Wintarto, pengarang novel remaja asal Semarang, mengaku memakai bahasa Inggris lebih simple dan tepat untuk menyampaikan isi buku. Itulah sebabnya pada novel terakhirnya yang diterbitkan akhir Agustus lalu, ia memberi judul The Rain Within.

Apabila yang dikatakan orang- orang ini benar, berarti memang ada sesuatu yang kurang dari bahasa Indonesia menyangkut kesederhanaan dan ketepatannya dalam menyampaikan suatu gagasan.

Ataukah kita akan meniru mentah-mentah negara tetangga kita yang memiliki bahasa Singlish dengan menemukan bahasa baru: Indonenglish?

OLEH DAHONO FITRIANTO

11
Jul

Tgl. 07-07-07 = Hari Hokie ? !

Meski tanggal 7 telah lewat, tapi tulisan ini cukup menarik untuk disimak. Saya hanya mengambilnya dari situs resminya. Berikut isinya:

Hari ini adalah tanggal keramat bagi para penggemar numorologi atau mereka yang percaya akan angka cantik atau angka hokie, sebab bertepatan dengan tanggal 07-07-07. Bagi orang Yahudi; hari Sabtu adalah hari ketujuh = Sabath. Maka tidaklah heran banyak orang yang memilih hari ini sebagai tanggal hari perkawinannya. Terutama di negara-negara Asia banyak sekali ibu yang khusus minta di operasi caesar agar anaknya dapat dilahirkan bertepatan pada hari hokie ini.

Angka tujuh bisa disebut sebagai angka hokie, sebab ini melambangkan tujuh lobang masuk yang dimiliki oleh manusia; 2 lubang hidung + 2 lubang kuping + 2 lubang hidung + mulut.

Angka 7 juga melambangkan angka kemenangan. Dalam judi angka triple-seven merupakan angka hokie begitu juga bagi para pemain mesin jackpot. Di Jepang angka 7 adalah angka hokie sedangkan angka 9 adalah angka sial, sebab lafal kata untuk angka 9 dalam bhs Jepang ku = menderita.

Aneh bin nyata; berdasarkan penelitian apabila orang disuru memilih angka antara 1 s/d 9 kebanyakan orang memilih angka 7. Angka tujuh ini dapat dibilang sebagai angka sempurna, sebab melambangkan kesatuan dari perempuan (segi empat) dan pria (segi tiga).

Bagi umat Kristen angka 7 adalah angka sempurna, dunia diciptakan dalam 7 hari, sedangkan angka 6 adalah angka yang tidak sempurna atau angka setan. 666 melambangkan angka dari Iblis, Nabi Palsu dan Anti Christ sedangkan angka 777 melambangkan Allah Tritunggal. Nabi Yusuf menafsirkan mimpi Firaun mengenai angka tujuh.

Kata CHRIST dalam urutan angka abjad kalau dijumlahkan menjadi 77. Sedangkan kita harus memaafkan orang 7 x 70 kali. Satu Minggu = 7 hari. Berdasarkan Injil Lukas dalam silsilah Yesus adalah generasi yang ke 77. Di Kitab Wahyu banyak sekali lambang angka 7 digunakan, maka dari itu juga ada aliran Kristen Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh.

Bagi umat Islam, angka 7 juga berarti angka baik sebab surga itu ada di tingkat ke 7 dan ada 7 ayat dalam Surat al-Fatiha. Sedangkan Buddha berjalan tujuh langkah setelah ia dilahirkan. Dalam agama Hindu ada 7 Chakra (sahasrara).

Ti ngkat kemurnian atau kebersihan air akan tercapai, apabila sudah mencapai level pH-7. Ada tujuh warna pelangi. Dongeng Putri Salju dan 7 kurcaci, Sinbad melayari 7 samudra. Film The seven Samurai. Berdasarkan novel dari Harry Potter angka 7 adalah angka yang paling sakti. Buku yang menggunakan angka 7; The Seven Years of Tibet. The Seven pillars of wisdoms. Tujuh keajaiban dunia dan 7 samudera. James Bond = 007, minuman 7-Up, toko 7-Eleven. Merek rokok Number 7 adalah rokok yang paling laris di Canada.

Banyak orang kegilaan akan angka cantik sehingga mereka bersedia membayar dengan harga tinggi untuk mendapatkan angka cantik tersebut. Misalnya telpon angka cantik termahal yang di dunia adalah no telpon 7 x 6 atau 666-666 di Doha – Qatar yang telah laku terjual seharga AS$ 2,7 juta. Sedangkan angka 7 x 8 atau 888-888 terjual di Chengdu – Tiongkok senilai AS$ 270.723. Bagi orang Tionghoa angka 8 adalah angka hokie.

Walaupun demikian menurut pakar komputer Steve Wozniak angka telpon 888-8888 itu tidak baik, akan selalu sibuk, masalahnya apabila anak kecil mulai main telpon maka ia akan memilih akan selalu memilih nomor 8888888.

Konon Jacky Chan tidak segan2 mengeluarkan uang satu juta AS$ hanya untuk mendapatkan nomor plat mobil 8888 sedangkan perusahaan Sichuan Airlines telah membayar 25 milyar Rp khusus untuk membeli no: 88888888 (8×8) sebab angka 8 (fa = dialek Kanton) berarti hokinya datang. Dan khusus untuk mendapatkan nomor cantik 135 8585 8585 yg berarti: Biarlah saya menjadi kaya, menjadi kaya, menjadi kaya telah dibeli dgn harga Euro 900.000 (95 milyar Rp) laporan dari Shanghai Daily.

Bagi mereka yang sudah kelewatan tanggal 07-07-07 masih ada tanggal cantik lainnya ialah 20-07-2007.

Sedangkan untuk tahun depan yang sudah pasti di Tiongkok akan menjadi hari atau tanggal sakti yang digandrungi oleh jutaan orang adalah tgl 08-08-08. Maka dari itu buruan pesan hotel untuk hari nikah pada tgl tersebut atau usahakan agar sang istri sudah bisa hamil pada bulan Desember yang akan datang ini.

Maranatha
Mang Ucup - The Drunken Priest
Homepage: www.mangucup.net