What is a name? Apakah arti sebuah nama? Begitu kata Shakespeare. Nama di sini bukanlah berarti suku Nama, sebuah suku di Afrika bagian Selatan, nama adalah sebutan panggilan yang unik di setiap umat manusia untuk membedakan dirinya dgn orang lain. Nama menunjukkan jati diri seseorang, dari mana ia berasal, apa latar belakangnya, apa status sosialnya, dsb.
Segera setelah seorang anak lahir di dunia, orang tuanya mencarikan nama untuk anaknya. Biasanya dipilih nama yang bagus2, nama yang memiliki arti yang mengesankan, meski ada juga yang hanya mengikuti tradisi dgn hanya memilih nama yg umum dipakai di daerahnya, atau malah dinamakan sama persis dgn nama ayahnya, seperti presiden Amerika Serikat skrg ini.
Waktu aku masih kecil, beberapa nama yang umum dipakai adalah seperti: Natalia, Andi, Monika, Andre, dsb. Nama2 yg terdengar seperti nama orang Barat. Ada juga nama2 yang terdengar seperti nama org Indonesia spt: Agung, Dimas, Agus, Hendrawan, serta nama saya sendiri. Tahu sendirilah siapa nama saya. Nama yang khas Indonesia. Beberapa waktu lalu, ketika akan ada suatu kegiatan, dan semua yg ikut ditanyain mau makanan apa, atau kalau2 ada pantangan apa. Saya ya pilih saja salah satu pilihan yang dia sediakan. Lalu pihak sana kirim email balik, menanyakan, "Are you moslem? Do you need halal food?" Sontak saya menjawab, "No, I’m not. I can eat any food." Rupanya nama saya terdengar seperti nama muslim yah. Tak heran, Singapore Idol yg lalu saja namanya Hady Mirza.
Waktu SMP ada temanku yg memakai nama muslim spt: Choirul Anam, Muhaimin, Masruchin, bahkan ada yg bernama Isa! Ketika SMA saya melihat teman2 saya banyak yang mempunyai nama2 Barat, jrg yang namanya masih memakai nama Tionghoa. Ada satu hal yang cukup menarik adalah bahwa nama Barat yang dipakai kebanyakan adalah nama2 Inggris, seperti: Stephanie atau variannya Stefani, Stefanie, lalu Jimmy, Melissa, Adrian, Aileen, Alan, Alex, Annice, Anthony, Ronald, Christine, dan lain sebagainya yg kalo diteruskan bisa nggak habis2. Ada pula nama Inggris yang aku tak pernah dengar ada org Indo yang memakainya spt: George, Ashlee, Archibald, Cameron, Kyle, Chuck, Montgomery, Murphy, Oswald, dll. Saya melihat tak banyak yang memakai nama selain Inggris, memang ada beberapa contohnya seperti: Imelda, Fernando, Alfredo, Anton, Ferdinand, Elvira, Ines, Hanna, dsb.
Banyak pula yang suka memakai nama Kristen, tak peduli dia beragama Kristen atau bukan. Ada yg bernama Christin tapi bukan Kristen. Yang lain ada yg memakai nama2 di Alkitab, atau nama Santo/Santa atau nama bapak2 gereja. Nama di Alkitab spt: Abednego, Petrus, Yakub, Yusuf, Yosua, Yohanes, Maria, Tirza, Hezron, Yosafat, serta nama2 Inggrisnya spt: Michael, Matthew, John, Peter, James, atau nama non Inggris, spt Yahya (Yohanes). Nama Santo/Santa spt: Valentina, Agustinus, Xaverius. Atau tokoh gereja seperti Polikarpus.
Pernah suatu kali ketika berkenalan dgn orang Vietnam, dan seusai saya menyebutkan nama saya, dia bertanya, "What is your western name?" Saya jadi bingung, nama saya cuma itu kok, kecuali kalau dia tanya siapa nama Tionghoanya, itu baru ada. Rupanya karena banyaknya orang Indonesia yang memakai nama Barat, sehingga dikira org Indo yg tidak bernama Barat mesti punya juga nama Baratnya.
Yang saya pertanyakan ialah mengapa banyak yang suka memakai nama Inggris, padahal orang Barat tidak hanya Inggris, banyak juga negara2 lain dgn budaya yg berbeda2. Kalau kita lihat, org Filipina dan Timor Timur banyak yg pakai nama bukan Inggris, spt: Domingos, Amando, Filipe, Ramos, dll. Sebenarnya banyak lho, nama non-Inggris yang belum dipakai seperti Boris, Vladimir, Jaroslav, Gustav, Ulrike, Schmidt, Konrad, Petersohn, Wolfgang, Giuliano, Annetta, Manuela, dlsb.
Saya melihat orang Jawa yang memakai nama Jawa sendiri juga makin menurun. Nama2 orang desa dulu ada yg diberi nama hari spt: Rebo, Kliwon, Wage (spt nama komponis kita). Ada jg yg namanya Dhingklik (kursi kecil), Gudel (sebutan utk anak kerbau). Sedangkan nama2 spt Poniman, Wakidi, Katemo, Katirin, Mukinem, Pariyem, sdh tidak umum lagi, terutama di kota. Sudah jarang sekali anak kecil yang namanya spt itu. Kebanyakan memakai nama yg dianggap lebih bagus spt: Rahayu, Ika, Retno, Sinta, Bambang, nama2 yg diawali sgn Su- spt Suharto, Sukarno, Susilo atau memakai nama2 Barat spt Randy, Ivan atau nama Arab spt Hambali, Shihab, Assegaf.
Saya baru saja tahu, kalau Wati itu dlm bahasa Arab artinya persetubuhan, tp sepertinya di Indo itu menjadi identik dgn wanita, contohnya antariksawati. Entah berasal dari bahasa mana itu. Pembaca ada yg tahu?
Saya melihat kecenderungan orang memakai nama Barat adalah makin besar, bahkan bekas pembantu saya dulu memberi nama anaknya dgn nama Henry. Bahkan ada yg namanya disamakan persis dgn nama penemu spt: Enrico Fermi, Thomas Alva Edison, bahkan Albert Einstein! Saya merasa kok nggak kreatif sih, dikopi persis namanya.
Saya jadi melihat bahwa orang Indonesia suka tiru2 nama asing, sesuatu yang tidak kulihat di bangsa2 lain seperti Jepang, Korea, Thailand, India, dll. Kalau memang bangsa Indonesia, kenapa pula mesti malu memakai nama asli Indonesia? Memang untuk kasus2 orang Tionghoa ada yg tak begitu suka mengadopsi nama penduduk lokal sebagai ganti nama Tionghoanya, maka mereka lebih memilih nama Barat. Dulu waktu SMP, ada teman2ku yang namanya unik2, spt: Maharani, Sulung, Bangkit, Buang, Gelar Luhur, Isish (entah nama bikinan sendiri ato ada hub dgn dewa Mesir saya tak tahu, yg jelas isis dlm bhs Jawa artinya sejuk).
Sebenarnya bisa lho menciptakan nama2 unik, mengingat di Indonesia adalah cukup bebas dalam memberi nama, tdk spt di bbrp kebudayaan lain yang mana nama anak pertama mesti sama dgn nama ayahnya, atau dengar2 di Singapur nama anak yg didaftarkan tidak boleh memakai nama2 tertentu. Contoh2nya spt Kristia Monetera, Satu Cahaya Langit, atau spt anak dr Melly Goeslaw yg dinamai "Anakku Lelaki" dan adiknya diberi nama "Pria Bernama". Lalu dengar2, anak dari Sitok Srengenge (artinya satu matahari) dinamakan "Laire Siwi Mentari" (lahirnya anak matahari). Ada juga joke2 ttg org yg bernama Saklitinov, dan Saklitinov itu ternyata singkatan dari Sabtu Kliwon Tiga November. Olala…
0 Responses to “Sebuah Kisah Tentang Nama”
Leave a Reply