Bahasa Indonesia dikenal mempunyai banyak kata serapan, mengingat bhs Indonesia yg berakar dr bahasa Melayu, dulunya adalah bahasa perdagangan, bahasa percakapan antar orang2 dari berbagai macam daerah.
Ada banyak kata yg sudah jamak dipakai dlm bahasa sehari-hari adalah hasil serapan bhs asing, seperti: bahagia, bahasa, angka, benda, beda, jelita (Sansekerta); kursi, awal, maaf, maksud (Arab); buncis, mantel, dasi, handuk, karcis, tas (Belanda); duit, pasar, bakso, loteng (Cina); lemari, terigu, keju, meja, kereta (Portugis); pahlawan, piyama (Persia); kado, supir (Prancis). Bahkan katanya kata "justru" berasal dr bhs Inggris "just true"! Arti dr kata2 serapan tsb bisa saja telah melenceng dari arti di bahasanya semula.
Saya merasa pada saat ini makin lama kata serapan semakin banyak, terutama yg berasal dari bahasa Inggris. Lihat saja, byk org lebih suka mengatakan ’situasi’ daripada ‘keadaan’, ‘infrastruktur’ drpd ‘prasarana’, ‘konflik’ daripada ‘pertentangan’, ‘imajinasi’ drpd ‘daya khayal’, ‘kreativitas‘ drpd ‘daya cipta’, ‘informasi’ drpd ‘keterangan’. Seakan-akan bila menggunakan kata2 yang terbaratisasi, adalah lebih keren dan akan terlihat lebih intelek. Padahal lebih mudah dan pendek memakai kata ‘ciri‘ daripada ‘karakteristik’. Kata2 seperti "berdiskusi" dan "distop", saya kira akan membuat org Australia, yg mana mereka juga belajar bahasa Indonesia di sekolah, menjadi merasa geli. Sebenarnya ada padanan kata dalam Indonesianya yaitu "berunding" dan "dihentikan".
Yang cukup menarik adalah terkadang ada suatu perulangan kata, spt contoh berikut yg diambil dr berita, "Dari segi kualitas, saya melihat ada kecenderungan bahwa mutu wasit sekarang sudah mulai memperlihatkan peningkatan." dan ada lagi, "untuk mewujudkan dan mengaktualisasikan…"
Di negeri Singa ini saya melihat ada tendensi kecenderungan orang2 Indonesia di sini sering menyisipkan kata2 bahasa Inggris dalam percakapannya sehari2. Contohnya spt meeting, cukup jarang org yg menggunakan kata ‘rapat’ drpd ‘meeting’. Kata ‘penelitian’ juga hampir tak pernah dipakai, byk yg lebih suka "research". Ini mengingatkanku pada mamaku yg biasanya menggunakan kata 开会(kai hui) alih2 rapat dan 研究 (yan jiu) alih2 penelitian.
Ada lagi yg lain spt by the way, meanwhile, tar paw, kay poh, dst. Memang sih tak bergitu bermasalah selama tak menimbulkan salah pengertian saja, tapi saya melihat bila diteruskan, lama2 ada kecenderungan bahasa Indonesia menjadi bahasa kreol, jadi bahasa campur, seperti singlish. Saya kira memang bagi org yg bilingual (dwibahasa) pencampuran antar kata dr bahasa berbeda ckp sering, terutama apabila bercakap2 dgn org yg sama2 bisa dwibahasa.
Cukup seringnya terpengaruh oleh kata2 seperti itu bisa2 membuat generasi baru tak begitu mengenal padanan kata yg tidak berasal dr Barat. Dulu saya kira kata kalem itu dr bahasa Indonesia asli, sebelum saya tahu ternyata dari bahasa asing. Begitu pula dgn telat dan babu, berasal dari te laat dan baboe (Belanda). Ada byk pula kata2 bahasa Inggris, yg mana saya agak kesulitan mencari padanan kata dlm bahasa Indonesianya, contohnya spt kata bilingual tadi. Meskipun sebenarnya kata dwibahasa sendiri berasal dr bahasa Sansekerta.
Ketika saya membaca kitab suci, saya sering menjumpai kata2 yg tak kupahami, terutama yg dari perjanjian lama contohnya spt: nafiri, sotoh, menyesah, terbantun(Luk 17:6), jejamang(2 Sam 1:10), salang umban(1 Sam 25 :29), lungsin (Hak16:13), semburit bakti (Ul 23:17), bondongan (Bil 23:10), dan masih banyak lagi lainnya. Padahal Terjemahan Baru itu baru sekitar 30-an tahun yg lalu. Ada kata2 yg artinya berbeda, spt kata budak kecil (1 Sam 20:35) yg setelah saya melihat terjemahan basic english, diterjemahkan menjadi little boy. Rupanya budak=anak, mirip bahasa Melayu. Saya pikir adanya kata2 yg tak kupahami itu menandakan adanya pergeseran makna di dalam penggunaan kata atau kata2 tersebut telah tergantikan dgn kata2 lain, baik itu serapan dr luar atau tidak .
Berikut saya mendapatkan kalimat bergaya jaman ketika masih di bawah pemerintahan kolonial.
„Toe kijk maar. Masah ik pake pakean kaja gini. Ajoh naar huis sebentar. Ik maoe toeker pakean. Ik verlegen neh met pakean kaja gini. Ik maoe dansen loh”
Saja terperandjat dan boeroe² rogoh sakoe saja, kerna zonder di sengadja, Ouweheer poenja omongan peringetken, jang rekening „kaartjis-nama” (*kartoe-nama) saja, jang ditjitak di itoe drukkerij zaman kongsi-koen (*masa kedjajaan), belon dibajar.
Mari, bong-tjee (*masoek)! Doedoek doeloe nip! Begitoelah Ouweheer tawarin saja boeat masoek dalem satoe roewangan ketjil. Tapi se-ketjil-ketjil’nja ini kamar, toch besar sekali artinja. Kerna di-dalem’nja Ouweheer installeer ia poenja drukkerij dan zetterij, magazijn boeat simpen kertas dan tinta, proefdrukkamer, order enz, enz. (*pesedian bahan mentahnja banjak sekali)
Rupanya proses pencampuran dgn bahasa asing sudah ada sejak jaman baheula. Cuma sekarang arus pencampuran dari bahasa Inggris jadi makin deras mengalir. Membuat bahasa Indonesia semakin terkreolisasi.
0 Responses to “Cuap-cuap tentang bahasa”
Leave a Reply