Archive for June, 2007

12
Jun

Kesembuhan dan Mukjizat

Pada beberapa waktu lalu saya melihat ada selebaran tentang adanya penyembuhan (healing). Berisi ajakan untuk datang dan mengajak kerabat atau sahabat yang sakit untuk disembuhkan secara ajaib/dgn mukjizat. Setelah kulihat lebih lanjut, ternyata ini diselenggarakan oleh sebuah gereja. Jadi itu mestinya adalah kebaktian. Yang saya pertanyakan ialah kalo memang kebaktian, kenapa tidak ditulis kebaktian saja besar2, kok malah ditulis menjanjikan kesembuhan. Kalo tulisan utamanya adalah kesembuhan, berarti kebaktiannya sendiri nomor dua dong. Seakan hal rohaninya dikesampingkan, lebih dipentingkan kesembuhan fisik. Saya jadi ingat beberapa waktu sebelumnya aku melihat ada iklan di MRT ttg seorang yg mengaku diri sebagai ‘prophet’ alias nabi yang menjanjikan kesembuhan bagi org sakit yg datang.

Saya jadi ingat cerita dari Anthony de Mello ttg mukjizat. Berikut ceritanya:

BAHARUDIN MENYEMBUNYIKAN MUKJIZAT-MUKJIZATNYA

Pada  suatu ketika orang menemui murid seorang Muslim mistik
Baharudin Naqshband dan berkata, "Jelaskan,  mengapa  gurumu
menyembunyikan     mukjizat-mukjizatnya.     Aku     sendiri
mengumpulkan peristiwa-peristiwa, yang membuktikan tak dapat
disangsikan lagi, bahwa ia hadir pada lebih dari satu tempat
pada waktu yang sama, bahwa  ia  menyembuhkan  orang  dengan
kekuatan  doanya, tetapi ia berkata, bahwa itu karya kodrat,
bahwa ia membantu orang dalam  kesusahannya  dan  mengatakan
itu sebagai keuntungan mereka. Mengapa ia berbuat demikian?"

"Aku tahu betul apa yang kamu maksud" kata murid, "Sebab aku
sendiri  mengamati  hal-hal  itu.  Dan  kukira,  aku   dapat
menjawab pertanyaanmu itu. Pertama, Guru itu menolak menjadi
pusat perhatian orang banyak. Dan kedua, ia yakin bahwa jika
orang  sudah  menaruh  perhatian pada mukjizat, mereka tidak
berminat lagi belajar sesuatu yang bernilai rohani."

                   (DOA  SANG  KATAK 1, Anthony de Mello SJ)

Setelah saya mencari di sana-sini, ternyatalah nabi2 pun tak semuanya melakukan mukjizat. Contohnya seperti Yohanes pembaptis (Yoh 10:41). Tuhan Yesus sendiri tidak membangga-banggakan mukjizat yang dibuatnya, bahkan ketika org dtg berbondong-bondong minta disembuhkan, Ia mengundurkan diri (Luk 5:16). Juga tidak semua org yg datang Dia sembuhkan, ketika Dia di kolam Betesda, di mana ada byk org sakit, Dia hanya menyembuhkan satu org saja. Selain itu Yesus tidak minta pada org yg disembuhkan untuk menjadi percaya kepadaNya, bahkan dari 10 org yg sakit kusta, hanya 1 org yg kembali dan sisanya pergi ngeloyor begitu saja! Yang penting adalah kita harus bisa membedakan antara nabi palsu dan bukan, mengingat di Alkitab dengan diperingatkan bahwa di akhir jaman akan banyak nabi palsu yg muncul.

11
Jun

Cuap-cuap tentang bahasa

Bahasa Indonesia dikenal mempunyai banyak kata serapan, mengingat bhs Indonesia yg berakar dr bahasa Melayu, dulunya adalah bahasa perdagangan, bahasa percakapan antar orang2 dari berbagai macam daerah.

Ada banyak kata yg sudah jamak dipakai dlm bahasa sehari-hari adalah hasil serapan bhs asing, seperti: bahagia, bahasa, angka, benda, beda, jelita (Sansekerta); kursi, awal, maaf, maksud (Arab); buncis, mantel, dasi, handuk, karcis, tas (Belanda); duit, pasar, bakso, loteng (Cina); lemari, terigu, keju, meja, kereta (Portugis); pahlawan, piyama (Persia); kado, supir (Prancis). Bahkan katanya kata "justru" berasal dr bhs Inggris "just true"! Arti dr kata2 serapan tsb bisa saja telah melenceng dari arti di bahasanya semula.

Saya merasa pada saat ini makin lama kata serapan semakin banyak, terutama yg berasal dari bahasa Inggris. Lihat saja, byk org lebih suka mengatakan ’situasi’ daripada ‘keadaan’, ‘infrastruktur’ drpd ‘prasarana’, ‘konflik’ daripada ‘pertentangan’, ‘imajinasi’ drpd ‘daya khayal’, ‘kreativitas‘ drpd ‘daya cipta’, ‘informasi’ drpd ‘keterangan’. Seakan-akan bila menggunakan kata2 yang terbaratisasi, adalah lebih keren dan akan terlihat lebih intelek. Padahal lebih mudah dan pendek memakai kata ‘ciri‘ daripada ‘karakteristik’. Kata2 seperti "berdiskusi" dan "distop", saya kira akan membuat org Australia, yg mana mereka juga belajar bahasa Indonesia di sekolah, menjadi merasa geli. Sebenarnya ada padanan kata dalam Indonesianya yaitu "berunding" dan "dihentikan".

Yang cukup menarik adalah terkadang ada suatu perulangan kata, spt contoh berikut yg diambil dr berita, "Dari segi kualitas, saya melihat ada kecenderungan bahwa mutu wasit sekarang sudah mulai memperlihatkan peningkatan." dan ada lagi, "untuk mewujudkan dan mengaktualisasikan…"

Di negeri Singa ini saya melihat ada tendensi kecenderungan orang2 Indonesia di sini sering menyisipkan kata2 bahasa Inggris dalam percakapannya sehari2. Contohnya spt meeting, cukup jarang org yg menggunakan kata ‘rapat’ drpd ‘meeting’. Kata ‘penelitian’ juga hampir tak pernah dipakai, byk yg lebih suka "research". Ini mengingatkanku pada mamaku yg biasanya menggunakan kata 开会(kai hui) alih2 rapat dan 研究 (yan jiu) alih2 penelitian.

Ada lagi yg lain spt by the way, meanwhile, tar paw, kay poh, dst. Memang sih tak bergitu bermasalah selama tak menimbulkan salah pengertian saja, tapi saya melihat bila diteruskan, lama2 ada kecenderungan bahasa Indonesia menjadi bahasa kreol, jadi bahasa campur, seperti singlish. Saya kira memang bagi org yg bilingual (dwibahasa) pencampuran antar kata dr bahasa berbeda ckp sering, terutama apabila bercakap2 dgn org yg sama2 bisa dwibahasa.

Cukup seringnya terpengaruh oleh kata2 seperti itu bisa2 membuat generasi baru tak begitu mengenal padanan kata yg tidak berasal dr Barat. Dulu saya kira kata kalem itu dr bahasa Indonesia asli, sebelum saya tahu ternyata dari bahasa asing. Begitu pula dgn telat dan babu, berasal dari te laat dan baboe (Belanda). Ada byk pula kata2 bahasa Inggris, yg mana saya agak kesulitan mencari padanan kata dlm  bahasa Indonesianya, contohnya spt kata bilingual tadi. Meskipun sebenarnya kata dwibahasa sendiri berasal dr bahasa Sansekerta.

Ketika saya membaca kitab suci, saya sering menjumpai kata2 yg tak kupahami, terutama yg dari perjanjian lama contohnya spt: nafiri, sotoh, menyesah, terbantun(Luk 17:6), jejamang(2 Sam 1:10), salang umban(1 Sam 25 :29), lungsin (Hak16:13), semburit bakti (Ul 23:17), bondongan (Bil 23:10), dan masih banyak lagi lainnya. Padahal Terjemahan Baru itu baru sekitar 30-an tahun yg lalu. Ada kata2 yg artinya berbeda, spt kata budak kecil (1 Sam 20:35) yg setelah saya melihat terjemahan basic english, diterjemahkan menjadi little boy. Rupanya budak=anak, mirip bahasa Melayu. Saya pikir adanya kata2 yg tak kupahami itu menandakan adanya pergeseran makna di dalam penggunaan kata atau kata2 tersebut telah tergantikan dgn kata2 lain, baik itu serapan dr luar atau tidak .

Berikut saya mendapatkan kalimat bergaya jaman ketika masih di bawah pemerintahan kolonial.
„Toe kijk maar. Masah ik pake pakean kaja gini. Ajoh naar huis sebentar. Ik maoe toeker pakean. Ik verlegen neh met pakean kaja gini. Ik maoe dansen loh”

Saja terperandjat dan boeroe² rogoh sakoe saja, kerna zonder di sengadja, Ouweheer poenja omongan peringetken, jang rekening „kaartjis-nama” (*kartoe-nama) saja, jang ditjitak di itoe drukkerij zaman kongsi-koen (*masa kedjajaan), belon dibajar.

Mari, bong-tjee (*masoek)! Doedoek doeloe nip! Begitoelah Ouweheer tawarin saja boeat masoek dalem satoe roewangan ketjil. Tapi se-ketjil-ketjil’nja ini kamar, toch besar sekali artinja. Kerna di-dalem’nja Ouweheer installeer ia poenja drukkerij dan zetterij, magazijn boeat simpen kertas dan tinta, proefdrukkamer, order enz, enz. (*pesedian bahan mentahnja banjak sekali)

Rupanya proses pencampuran dgn bahasa asing sudah ada sejak jaman baheula. Cuma sekarang arus pencampuran dari bahasa Inggris jadi makin deras mengalir. Membuat bahasa Indonesia semakin terkreolisasi.

10
Jun

Tentang Hidup

Dalam hidup ini, ada sedih ada senang, ada suka ada duka, ada damai ada seteru, ada hal2 yang kita idam-idamkan namun tak terwujud, ada pula kejadian yg mengejutkan, yang sama sekali tak kita harapkan tiba2 saja menimpa, baik itu kejadian baik maupun buruk. Sampai ada yang mengatakan bahwa satu-satunya yang dapat kau harapkan untuk datang adalah yang tak diharapkan. Menurutku itu ungkapan yang berlebihan. Tidak semua hal yang ada tak bisa diramalkan, masih banyak kejadian2 yang bisa kita prakirakan sebelumnya.

Tapi memang, dapat disadari atau tidak, jalan mana kita akan melangkah kelak, apa yang kita dapatkan atau kemampuan kita selama hidup di dunia, semua sdh ada yang mengatur. Tidak semua orang mendapat hal yang sama. Semua diberikan sesuai dengan kebutuhan kita.

Berikut adalah sebuah kisah yang cukup menarik karya Anthony de Mello:

PERUMPAMAAN HIDUP

Sepulang dari perjalanan, Sang Guru menceritakan salah satu pengalamannya yang menurutnya merupakan perumpamaan mengenai hidup.

Pada waktu istirahat pendek, ia berjalan ke warung makan yang kelihatan apik. Ada sup lezat, gulai panas, dan semua jenis hidangan yang serba menggoda selera.

Ia memesan sup.

"Anda penumpang bus?" tanya sang pelayan dengan nada keibuan. Sang Guru mengangguk.

"Tidak ada sup."

"Kalau gulai nasi panas?" tanya Sang Guru dengan rasa heran.

"Juga tidak, karena Anda penumpang bus! Anda sebaiknya membeli roti saja. Seluruh pagi saya habiskan guna mempersiapkannya, dan Anda bisa menyantapnya dalam waktu tidak lebih dari 10 menit. Saya tidak akan mempersiapkan makanan yang tidak dapat Anda nikmati dengan waktu yang Anda miliki."

                                                                (Berbasa-basi Sejenak, Anthony de Mello)

02
Jun

Si Ceria & Si Murung

Saya mendapat cerita ini dari suatu situs. Cerita ini mengingatkanku akan dua macam orang: orang yg bagaimanapun sulitnya pasti ada jalan keluar dan orang yg bagaimanapun ada jalan keluar pasti ada kesulitan.

Seperti namanya Ceria mempunyai sifat periang, selalu gembira, dan selalu tersenyum. Sebaliknya Murung mempunyai perangai yang cemberut, selalu sedih, dan jarang tersenyum. Suatu ketika orang tua mereka berpikiran untuk membuat Si Murung tersenyum gembira dan membuat Si Ceria menjadi cemberut dan sedih. Nah orang tua mereka mulai memikiran apa yang menjadi kesenangan mereka !!! Si Cemberut yang menginjak masa ABG sedang terkena demam HP, jika pergi dengan teman-temannya sering kali ia meminjam HP milik temannya untuk menelpon. Kemudian orang tuanya membelikan dia HP supaya dia menjadi senang dan gembira.

Sewaktu cemberut pergi sekolah HP itu dibungkus oleh orang tuanya dengan kertas kado yang bagus dan diletakkan di kamarnya. Sewaktu Cemberut pulang ia segera masuk ke kamarnya, dan ia melihat ada kado di kasurnya. Dengan sigap ia cepat-cepat membuka kado itu dan ia terkejut sekali ketika di dalamnya berisi HP. Wajahnya tersenyum, tapi tidak lama. Kemudian ia murung lagi karena ia berpikiran kalau-kalau HP ini ia bawa pasti teman-temannya akan banyak yang pinjam, terus kalo rusak biayanya pasti mahal. Di ben aknya selalu muncul pikiran yang negatif, sehingga kado HP itu menjadi beban baginya. Dan yang keluar dari mulutnya adalah omelan-omelan dan umpatan, bukannya terima kasih kepada orang tuanya.

Si Ceria yang senang dengan kuda, diberi oleh orang tuanya telepong kuda (kotoran kuda) dengan harapan ia menjadi cemberut dan sedih.

Telepong (kotoran kuda) yang dibungkus dengan menarik itu juga diletakkan di kamarnya. Sewaktu Ceria pulang ia juga terkejut ada kado di kamarnya. Dengan sigap ia membuka pula kado itu. Ketika dibuka bau busuk keluar dari kado itu, dan alangkah terkejutnya bahwa kado itu berisi kotoran kuda. Mukanya menjadi kebingungan sebentar. Dia berpikir, "Masa sih orang tuaku yang begitu mencintai aku memberi aku kotoran kuda, wah pasti ada sesuatu di balik hadiah ini!!!"

Setelah berpikir sebentar kemudian ia lari kepada orang tuanya dan mencium mereka. Orang tuanya sangat bingung dan terkejut kemudian bertanya, "Lho kamu itu diberi kotoran kuda kok senang sih ?".Lalu Ceria menjawab, "Papa, Mama, saya tahu kalian sangat mencintai saya, jadi tidak mungkin memberi kotoran kuda kepada saya, pasti kotoran kuda itu adalah sebuah tanda. Kalau ada kotoran kuda, berarti ada kudanya. Saya tahu bahwa kalian akan membelikan kuda pony buat saya, dan sekarang mana kudanya ???". Kemudian orang tuanya berkata, "Lho kami hanya memberi itu kepada kamu". Ceria menyahut, "Tidak mungkin saya yakin pasti ada kudanya." Akhirnya orang tuanya mengalah, dan membelikan dia kuda pony.

Orang yang hidupnya merasa sangat dicintai Tuhan akan selalu berpikir bahwa Tuhan akan memberikan yang terbaik dalam hidupnya, walaupun dia sedang dalam penderitaan. Sehingga orang yang hidup dalam cinta kasih Tuhan akan selalu gembira dan ceria di dalam hidupnya. Sebaliknya orang yang tidak merasa dikasihi oleh Tuhan, akan merasa bahwa hidup ini menjadi beban penderitaan yang sangat panjang. Sehingga di dalam hidupnya akan gelisah, takut dan khawatir.

01
Jun

Sebuah Kisah Tentang Nama

What is a name? Apakah arti sebuah nama? Begitu kata Shakespeare. Nama di sini bukanlah berarti suku Nama, sebuah suku di Afrika bagian Selatan, nama adalah sebutan panggilan yang unik di setiap umat manusia untuk membedakan dirinya dgn orang lain. Nama menunjukkan jati diri seseorang, dari mana ia berasal, apa latar belakangnya, apa status sosialnya, dsb.

Segera setelah seorang anak lahir di dunia, orang tuanya mencarikan nama untuk anaknya. Biasanya dipilih nama yang bagus2, nama yang memiliki arti yang mengesankan, meski ada juga yang hanya mengikuti tradisi dgn hanya memilih nama yg umum dipakai di daerahnya, atau malah dinamakan sama persis dgn nama ayahnya, seperti presiden Amerika Serikat skrg ini.

Waktu aku masih kecil, beberapa nama yang umum dipakai adalah seperti: Natalia, Andi, Monika, Andre, dsb. Nama2 yg terdengar seperti nama orang Barat. Ada juga nama2 yang terdengar seperti nama org Indonesia spt: Agung, Dimas, Agus, Hendrawan, serta nama saya sendiri. Tahu sendirilah siapa nama saya. Nama yang khas Indonesia. Beberapa waktu lalu, ketika akan ada suatu kegiatan, dan semua yg ikut ditanyain mau makanan apa, atau kalau2 ada pantangan apa. Saya ya pilih saja salah satu pilihan yang dia sediakan. Lalu pihak sana kirim email balik, menanyakan, "Are you moslem? Do you need halal food?" Sontak saya menjawab, "No, I’m not. I can eat any food." Rupanya nama saya terdengar seperti nama muslim yah. Tak heran, Singapore Idol yg lalu saja namanya Hady Mirza.

Waktu SMP ada temanku yg memakai nama muslim spt: Choirul Anam, Muhaimin, Masruchin, bahkan ada yg bernama Isa! Ketika SMA saya melihat teman2 saya banyak yang mempunyai nama2 Barat, jrg yang namanya masih memakai nama Tionghoa. Ada satu hal yang cukup menarik adalah bahwa nama Barat yang dipakai kebanyakan adalah nama2 Inggris, seperti: Stephanie atau variannya Stefani, Stefanie, lalu Jimmy, Melissa, Adrian, Aileen, Alan, Alex, Annice, Anthony, Ronald, Christine, dan lain sebagainya yg kalo diteruskan bisa nggak habis2. Ada pula nama Inggris yang aku tak pernah dengar ada org Indo yang memakainya spt: George, Ashlee, Archibald, Cameron, Kyle, Chuck, Montgomery, Murphy, Oswald, dll. Saya melihat tak banyak yang memakai nama selain Inggris, memang ada beberapa contohnya seperti: Imelda, Fernando, Alfredo, Anton, Ferdinand, Elvira, Ines, Hanna, dsb.

Banyak pula yang suka memakai nama Kristen, tak peduli dia beragama Kristen atau bukan. Ada yg bernama Christin tapi bukan Kristen. Yang lain ada yg memakai nama2 di Alkitab, atau nama Santo/Santa atau nama bapak2 gereja. Nama di Alkitab spt: Abednego, Petrus, Yakub, Yusuf, Yosua, Yohanes, Maria, Tirza, Hezron, Yosafat, serta nama2 Inggrisnya spt: Michael, Matthew, John, Peter, James, atau nama non Inggris, spt Yahya (Yohanes). Nama Santo/Santa spt: Valentina, Agustinus, Xaverius. Atau tokoh gereja seperti Polikarpus.

Pernah suatu kali ketika berkenalan dgn orang Vietnam, dan seusai saya menyebutkan nama saya, dia bertanya, "What is your western name?" Saya jadi bingung, nama saya cuma itu kok, kecuali kalau dia tanya siapa nama Tionghoanya, itu baru ada. Rupanya karena banyaknya orang Indonesia yang memakai nama Barat, sehingga dikira org Indo yg tidak bernama Barat mesti punya juga nama Baratnya.

Yang saya pertanyakan ialah mengapa banyak yang suka memakai nama Inggris, padahal orang Barat tidak hanya Inggris, banyak juga negara2 lain dgn budaya yg berbeda2. Kalau kita lihat, org Filipina dan Timor Timur banyak yg pakai nama bukan Inggris, spt: Domingos, Amando, Filipe, Ramos, dll. Sebenarnya banyak lho, nama non-Inggris yang belum dipakai seperti Boris, Vladimir, Jaroslav, Gustav, Ulrike, Schmidt, Konrad, Petersohn, Wolfgang, Giuliano, Annetta, Manuela, dlsb.

Saya melihat orang Jawa yang memakai nama Jawa sendiri juga makin menurun. Nama2 orang desa dulu ada yg diberi nama hari spt: Rebo, Kliwon, Wage (spt nama komponis kita). Ada jg yg namanya Dhingklik (kursi kecil), Gudel (sebutan utk anak kerbau). Sedangkan nama2 spt Poniman, Wakidi, Katemo, Katirin, Mukinem, Pariyem, sdh tidak umum lagi, terutama di kota. Sudah jarang sekali anak kecil yang namanya spt itu. Kebanyakan memakai nama yg dianggap lebih bagus spt: Rahayu, Ika, Retno, Sinta, Bambang, nama2 yg diawali sgn Su- spt Suharto, Sukarno, Susilo atau memakai nama2 Barat spt Randy, Ivan atau nama Arab spt Hambali, Shihab, Assegaf.

Saya baru saja tahu, kalau Wati itu dlm bahasa Arab artinya persetubuhan, tp sepertinya di Indo itu menjadi identik dgn wanita, contohnya antariksawati. Entah berasal dari bahasa mana itu. Pembaca ada yg tahu?

Saya melihat kecenderungan orang memakai nama Barat adalah makin besar, bahkan bekas pembantu saya dulu memberi nama anaknya dgn nama Henry. Bahkan ada yg namanya disamakan persis dgn nama penemu spt: Enrico Fermi, Thomas Alva Edison, bahkan Albert Einstein! Saya merasa kok nggak kreatif sih, dikopi persis namanya.

Saya jadi melihat bahwa orang Indonesia suka tiru2 nama asing, sesuatu yang tidak kulihat di bangsa2 lain seperti Jepang, Korea, Thailand, India, dll. Kalau memang bangsa Indonesia, kenapa pula mesti malu memakai nama asli Indonesia? Memang untuk kasus2 orang Tionghoa ada yg tak begitu suka mengadopsi nama penduduk lokal sebagai ganti nama Tionghoanya, maka mereka lebih memilih nama Barat. Dulu waktu SMP, ada teman2ku yang namanya unik2, spt: Maharani, Sulung, Bangkit, Buang, Gelar Luhur, Isish (entah nama bikinan sendiri ato ada hub dgn dewa Mesir saya tak tahu, yg jelas isis dlm bhs Jawa artinya sejuk).

Sebenarnya bisa lho menciptakan nama2 unik, mengingat di Indonesia adalah cukup bebas dalam memberi nama, tdk spt di bbrp kebudayaan lain yang mana nama anak pertama mesti sama dgn nama ayahnya, atau dengar2 di Singapur nama anak yg didaftarkan tidak boleh memakai nama2 tertentu. Contoh2nya spt Kristia Monetera, Satu Cahaya Langit, atau spt anak dr Melly Goeslaw yg dinamai "Anakku Lelaki" dan adiknya diberi nama "Pria Bernama". Lalu dengar2, anak dari Sitok Srengenge (artinya satu matahari) dinamakan "Laire Siwi Mentari" (lahirnya anak matahari). Ada juga joke2 ttg org yg bernama Saklitinov, dan Saklitinov itu ternyata singkatan dari Sabtu Kliwon Tiga November. Olala…