Archive for March, 2007

23
Mar

ADAKAH TUHAN?

Artikel berikut saya dapatkan dari sebuah yahoogroups. Terlepas ini merupakan kejadian nyata atau tidak, kita lihat saja hikmah yg ada di baliknya.

Seorang profesor filosofi atheis berbicara kepada kelasnya mengenai masalah
telah dihadapi sains dengan Tuhan, Sang MahaKuasa. Ia meminta seorang
diantara para mahasiswa barunya untuk berdiri dan … … …

Prof: "Jadi, kamu percaya kepada Tuhan?"

Mahasiswa: "Secara mutlak, pak!"

Prof: "Apakah Tuhan baik?"

Mahasiswa: "Tentu!"

Prof: "Apakah Tuhan Maha-Digjaya?"

Mahasiswa: "Ya!"

Prof: Saudara saya telah mati karena kanker, bahkan meskipun ia telah berdoa
kepada Tuhan untuk memulihkan dia. Kebanyakan dari kita akan berupaya untuk
menolong yang lain siapa-siapa yang sakit. Tapi Tuhan tidak. Maka
bagaimanakah Tuhan ini baik? Hmm?"

Mahasiswa: [diam.]

Prof: "Kamu tak dapat menjawab, bukan? Mari mulai lagi, sobat muda. Apakah
Tuhan baik?"

Mahasiswa: "Ya!"

Prof: "Apakah setan baik?"

Mahasiswa: "Tidak!"

Prof: "Dari manakah setan datang?"

Mahasiswa: "Dari … Tuhan …"

Prof: "Itu benar! Ceritakan kepada saya nak, apakah ada kejahatan didalam
dunia ini?"

Mahasiswa: "Ya!"

Prof: "Kejahatan ada dimana-mana, bukan? Dan Tuhan tak berbuat sesuatu pun.
Betul?"

Mahasiswa: "Ya!’

Prof: "Jadi siapa yang telah menciptakan kejahatan?"

Mahasiswa: [tak menjawab.]

Prof: "Apakah ada kesakitan? Ketakbermoralan? Kebencian? Kebodohoan? Semua
hal jelek ini ada didunia, tidakkah demikian?"

Mahasiswa: "Ya, pak!"

Prof: "Jadi, siapa yang telah menciptakan mereka?"

Mahasiwa: [tak ada jawaban.]

Prof: "Sains mengatakan kamu mempunyai lima indera yang kamu gunakan untuk
mengidentifikasi dan mengobservasi dunia sekeliling kamu. Ceritakan kepada
saya, nak … Apakah pernah kamu melihat Tuhan?"

Mahasiswa: "Tidak, pak!"

Prof: "Ceritakan kepada saya jika kamu telah pernah mendengar Tuhan mu?"

Mahasiswa: "Tidak, pak!"

Prof: "Apakah kamu telah pernah merasakan Tuhan mu, mencicipi Tuhan mu?
Apakah kamu telah pernah mempunyai suatu persepsi indera Tuhan untuk hal
itu?"

Mahasiwa: "Tidak, pak! Saya rasa saya tak pernah mempunyainya"

Prof: "Tetapkah kamu masih percaya kepada Nya?"

Mahasiswa: "Ya, pak!"

Prof: "Sesuai dengan protokol empiris, bisa-diuji, bisa-didemonstrasikan,
sains mengatakan bahwa Tuhan mu tak ada! Apa yang kamu katakan tentang itu,
nak?"

Mahasiswa: "Tidak ada. Saya hanya memiliki keimanan saya."

Prof: "Ya. Keimanan. Dan itulah masalah dihadapi Sains."

… … …

Mahasiswa: "Bolehkah saya mengajukan kepada anda beberapa pertanyaan, tuan?"

Prof: "Ya, mengapa tidak?"

Mahasiswa: "Profesor, apakah ada sesuatu hal sebagai panas?"

Prof: "Ya!"

Mahasiswa: "Dan adakah sesuatu hal sebagai dingin?"

Prof: "Ya!"

Mahasiswa: "Tidak, pak!. Tak ada!"

[Pentas kuliah menjadi sebegitu hening dengan giliran peristiwa ini.]

Mahasiswa: "Pak, anda dapat mempunyai sejumlah panas, bahkan lebih banyak
panas, super panas, mega panas, panas putih, sedikit panas atau tak ada
panas. Tapi kita tak dapat mempunyai sesuatu yang disebut dingin. Kita dapat
mencapai 460 derajat Fahrenheit dibawah nol yang mana tak ada panas, tapi
kita tak dapat pergi lebih jauh setelah itu. Tak ada hal sebagai dingin.
Dingin hanyalah suatu kata kita gunakan untuk memerikan ketakhadiran panas.
Kita tak dapat mengukur dingin. Panas adalah tenaga. Dingin bukan lawan dari
panas, pak, hanya ketakhadiran darinya."

[Ada sebungkah keheningan didalam pentas kuliah.]

Mahasiswa: "Bagaimana dengan kegelapan, Profesor? Apakah ada sesuatu hal
sebagai kegelapan?"

Prof: "Ya. Bukanlah malam jika bukan kegelapan?"

Mahasiswa: "Anda salah lagi, pak. Kegelapan adalah ketakhadiran sesuatu.
Anda dapat mempunya cahaya redup, cahaya normal, cahaya benderang, cahaya
berkilap … Tapi jika anda tak mempunyai cahaya secara tetap, anda
mempunyai ketiadaan sesuatu dan ia disebut kegelapan, bukan? Dalam
kenyataan, kegelapan bukan? Jika ia ada disana, anda bisa membuat kegelapan
menjadi lebih gelap, bukan?"

Prof: "Jadi, apa sasaran yang sedang kamu tuju, anak muda?"

Mahasiwa: "Pak, sasaran saya adalah bahwa pengandaian filofis anda telah
keliru."

Prof: "Keliru? Dapatkah kamu menjelaskannya bagaimana?"

Mahasiswa: "Pak, anda sedang bekerja dengan pengandaian dualitas. Anda
berargumentasi bahwa ada kehidupan dan ada kematian, satu Tuhan baik dan
satu Tuhan jahat. Anda memandang konsep Tuhan sebagai sesuatu yang terbatas,
sesuatu yang dapat kita ukur. Pak, sains tak dapat menjelaskan suatu
pemikiran. Ia menggunakan kelistrikan dan kemagnitan, tapi tak pernah
melihat, banyak kurang mengerti secara penuh yang mana pun darinya.
Memandang kematian sebagai lawan dari kehidupan, adalah mengabaikan fakta
bahwa kematian tak dapat ada sebagai suatu hal subtantiv. Kematian bukan
lawan kehidupan: hanya ketakhadiran darinya. Sekarang ceritakan kepada saya,
Profesor. Apakah anda mengajarkan kepada para mahasiswa anda bahwa mereka
telah berevolusi dari seekor monyet?"

Prof: "Jika kamu merujuk ke proses evolusioner alamiah, ya, tentu, saya
mengajarkannya."

Mahasiwa: "Pernahkah anda mengamati evolusi dengan mata anda sendiri, pak?"

[Sang Profesor menggelengkan kepalanya dengan sebuah senyum, mulai menyadari
kemana argumentasi tengah mengarah.]

Mahasiswa: "Karena tak seorang pun telah pernah mengamati proses evolusi
ketika berkerja dan tak dapat membuktikan bahwa proses ini adalah suatu yang
tengah berlangung, apakah anda bukannya sedang mengajarkan pendapat anda,
pak?"

[Kelas gemuruh.]

Mahasiswa: "Apakah ada seseorang dalam kelas ini yang telah pernah melihat
otak Profesor?"

[Kelas pecah kedalam cekikikan.]

Mahasiswa: "Adakah seseorang disini yang telah pernah mendengar otak
Profesor? Merasakannya, menjamahnya atau membau’inya? Tak seorang pun
tampaknya telah melakukan yang sedemikian. Jadi, sesuai dengan aturan telah
ditetapkan dari protokol empirik, mantap, bisa-didemonstrasikan, sains
mengatakan bahwa anda tak mempunyai otak, pak. Dengan segala hormat, pak,
bagaimana mungkin kami mempercayai kuliah anda, pak?"

[Ruangan hening. Sang profesor melotot kepada si mahasiswa, wajahnya tak
dapat ditebak.]

Prof: "Saya kira kamu akan harus mengambil mereka dengan keimanan, nak."

Mahasiwa: "Itulah, pak … Tautan antara manusia dan Tuhan adalah keimanan.
Itulah semua yang menahan hal-hal bergerak dan hidup … … … ."

APAKAH TUHAN MENCIPTAKAN KEJAHATAN?

Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada? Apakah kejahatan itu ada? Apakah
Tuhan menciptakan kejahatan? Seorang Profesor dari sebuah universitas
terkenal menantang mahasiswa-mahasiswanya dengan pertanyaan ini, "Apakah
Tuhan menciptakan segala yang ada?".

Seorang mahasiswa dengan berani menjawab, "Betul, Dia yang menciptakan
semuanya".

"Tuhan menciptakan semuanya?" Tanya professor sekali lagi. "Ya, Pak,
semuanya" kata mahasiswa tersebut.

Profesor itu menjawab, "Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan
menciptakan kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip kita
bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa berasumsi bahwa
Tuhan itu adalah kejahatan."

Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab hipotesis professor tersebut.
Profesor itu merasa menang dan menyombongkan diri bahwa sekali lagi dia
telah membuktikan kalau agama itu adalah sebuah mitos.

Mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata, "Profesor, boleh saya bertanya
sesuatu?"

"Tentu saja," jawab si Profesor.

Mahasiswa itu berdiri dan bertanya, "Profesor, apakah dingin itu ada?"

"Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada. Kamu tidak pernah
sakit flu?" Tanya si professor diiringi tawa mahasiswa lainnya.

Mahasiswa itu menjawab, "Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada. Menurut
hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu -460
F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan
tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk
mendeskripsikan ketiadaan panas."

Mahasiswa itu melanjutkan, "Profesor, apakah gelap itu ada?"

Profesor itu menjawab, "Tentu saja itu ada."

Mahasiswa itu menjawab, "Sekali lagi anda salah, Pak. Gelap itu juga tidak
ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita
pelajari, gelap tidak. Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan
cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang
setiap warna. Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu
ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut. Kata
gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya."

Akhirnya mahasiswa itu bertanya, "Profesor, apakah kejahatan itu ada?"

Dengan bimbang professor itu menjawab, "Tentu saja, seperti yang telah
kukatakan sebelumnya. Kita melihat setiap hari di Koran dan TV. Banyak
perkara kriminal dan kekerasan di antara manusia. Perkara-perkara tersebut
adalah manifestasi dari kejahatan."

Terhadap pernyataan ini mahasiswa itu menjawab, "Sekali lagi Anda salah,
Pak. Kejahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan. Seperti
dingin atau gelap, kejahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk
mendeskripsikan ketiadaan Tuhan. Tuhan tidak menciptakan kajahatan.
Kajahatan adalah hasil dari tidak adanya kasih Tuhan dihati manusia. Seperti
dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari ketiadaan
cahaya."

Profesor itu terdiam.

Nama mahasiswa itu adalah Albert Einstein.