Imlek telah usai seminggu yang lalu. Tapi baru sekarang aku mau
menuliskannya. Tak apa daripada tidak sama sekali atau menunggu tahun depan
lagi. Toh sekarang juga masih terasa gaungnya, karena Lantern Festival元宵节(yuánxiāojié) juga belum tiba. Perlu diketahui, Lantern Festival di sini bukanlah
Mid-Autumn Festival seperti yang terkadang disebut Lantern Festival juga di negara Singa ini. Lantern Festival ini diadakan tiap tanggal 15 bulan pertama yg di Indonesia disebut dgn Cap Go Meh. Berikut adalah kutipan dari wikipedia ttg Lantern
Festival : "Traditionally, the date
once served as a day for love and matchmaking. It was one of the few nights in
ancient times without a strict curfew. Young people were chaperoned in the
streets in hopes of finding love. Matchmakers acted busily in hopes of pairing
couples. The brightest lanterns were symbolic of good luck and hope."
Sedangkan di wikipedia bahasa Indonesia tertulis, “Di Asia Tenggara ia dikenal sebagai hari
Valentine Tionghoa, masa ketika wanita-wanita yang belum menikah
berkumpul bersama dan melemparkan jeruk ke dalam laut - suatu adat yang berasal dari Penang, Malaysia”.
Saya pribadi baru tahu kalo ada hari
Valentine yang lain selain Valentine’s day tgl 14 Feb, White day tgl 14 Maret
-bagi yg merayakan- dan Chinese Valentine’s
Day (七夕) tgl 7 bulan 7 lunar year. Belakangan saya
baru tahu juga ada macam2 Valentine’s day di berbagai negara, spt di Romania yg diadakan tgl 24 Februari, lalu ada acara
aneh2 lain spt black day.
Kata Imlek (阴历
[Hokkien]) umum dipakai di Indonesia.
Tapi di Negara Singa ini rupanya lebih umum disebut Spring Festival (春节), seakan-akan itu
adalah festival musim semi belaka. Memang benar itu terjadi pada musim semi di China,
tapi di negeri Singa nan tropis ini sebenarnya tak ada musim semi, jadi seakan
hanya ikut2an saja.
Ada hal lain
yang cukup menarik yaitu, di negeri Singa ini tak terlihat tahun Imlek, tak
seperti di Indonesia yang mana sering terpampang tulisan “Selamat Hari Raya Imlek Tahun 2558”. Di internet saya menemukan
alasannya yaitu: Angka 2558 itu diambil
berdasarkan perkiraan tahun kelahiran Konfusius. Hal itu muncul di Indonesia sejak awal 1900 karena adanya gerakan new
revival. Orang-orang Tionghoa yang beragama Konfusius berusaha untuk menanamkan
suatu akar yang kuat di masyarakat Tionghoa. Indonesialah satu-satunya negara
di dunia di mana Imlek dilengkapkan dengan angka tahun. Rupanya Confucius
lahir di tahun 551 SM, maka skrg mjd tahun 2558 Imlek.

Beberapa waktu yang lalu, di saat saya sedang berjalan kembali ke kamar, aku melihat ada tulisan 福 (luck) terbalik, spt gambar di atas. Suatu kebalikan yang disengaja. Setelah diberitahu teman ternyata tulisan tsb dibalik supaya keberuntungan jatuh ke tangan kita. Yah, kalau saya pikir2, meskipun tiap tahun tulisan dibalik, tapi kalo memang sedang bukan nasibnya, keberuntungan tetap saja bisa terbang pergi.
Suatu hal yang cukup menarik adalah banyak org yang menaruh pot mandarin orange di rumahnya. Mandarin orange jadi terasa berlimpah jumlahnya. Bahkan ketika saya naik bus, si sopir bus yang ternyata wanita, memberi setiap penumpang yang naik dgn angpao berisi jeruk ini yang berukuran kecil. Awalnya kukira kok baik sekali memberi setiap penumpang, ternyata mmg jeruk ini melimpah jumlahnya dan di mana2 kulihat buahnya yang ranum dan siap dipetik oleh siapa saja yang lewat.
Ada satu
perayaan yang unik di negeri Singa ini yaitu Chingay Parade (妆艺大游行[Zhuāngyì Dàyóuxíng]),
yang diadakan di seputar Orchard Road. Ini adalah parade jalanan yang dimulai dari
sejak dilarangnya petasan pada tahun baru di tahun 70-an. Acara ini telah
menjadi multi-cultural event, bukan saja milik etnis China saja. Acara ini mengingatkanku pada Carnival di Rio de Janeiro yang tersohor itu.
Chingay


Wah menarik… baru tahu kalo ternyata Imlek serumit itu… Nda sekedar kantin tutup dan qta pada kelaparan… hehehe.
Btw, tuh jeruk daripada dilempar ke laut mending ke kamarku aja, siap tak makan kok. Hehehe…