Saya kemarin melihat2 karya2 dari Anthony de Mello dan isinya
menyadarkanku akan apa agama sesungguhnya. Berikut adalah dua dari antaranya:
PASAR MALAM AGAMA
Aku dan temanku pergi ke ‘Pasar malam agama.’ Bukan pasar
dagang. Pasar agama. Tetapi persaingannya sama sengitnya,
propagandanya pun sama hebatnya.
Di kios Yahudi kami mendapat selebaran yang mengatakan bahwa
Tuhan itu Maha Pengasih dan bahwa bangsa Yahudi adalah umat
pilihanNya. Ya, bangsa Yahudi. Tidak ada bangsa lain yang
terpilih seperti bangsa Yahudi.
Di kios Islam kami mendengar, bahwa Allah itu Maha Penyayang
dan Muhammad ialah nabiNya. Keselamatan diperoleh dengan
mendengarkan Nabi Tuhan yang satu-satunya itu.
Di kios Kristen kami menemukan, bahwa Tuhan adalah Cinta dan
bahwa di luar Gereja tidak ada
keselamatan. Silahkan
mengikuti Gereja Kudus jika tidak ingin mengambil
risiko
masuk neraka.
Di pintu keluar aku bertanya kepada
temanku: ‘Apakah
pendapatmu tentang Tuhan?’ Jawabnya: ‘Ia Rupanya penipu,
fanatik dan bengis.’
Sampai di rumah aku berkata kepada Tuhan: ‘Bagaimana Engkau
bisa tahan dengan hal seperti ini, Tuhan? Apakah
Engkau
tidak tahu, bahwa selama berabad-abad mereka memberi julukan
jelek kepadaMu?’
Tuhan berkata: ‘Bukan Aku yang mengadakan
‘Pasar malam
agama’ itu. Aku bahkan
merasa terlalu malu untuk
mengunjunginya.’
(Burung
Berkicau, Anthony de Mello SJ)
———————————————————————————
SETAN DAN TEMANNYA
Pada suatu hari setan
berjalan-jalan dengan seorang
temannya. Mereka melihat seseorang membungkuk dan memungut
sesuatu dari jalan.
‘Apa yang ditemukan orang itu?’ tanya si teman.
‘Sekeping kebenaran,’ jawab setan.
‘Itu tidak merisaukanmu?’ tanya si teman.
‘Tidak,’ jawab setan. ‘Saya akan membiarkan dia menjadikannya
kepercayaan agama.’
Kepercayaan agama merupakan suatu tanda, yang menunjukkan
jalan kepada kebenaran. Orang yang kuat-kuat berpegang pada
penunjuk jalan, tidak dapat berjalan terus menuju kebenaran.
Sebab, ia mengira seakan-akan sudah memilikinya.
(Burung Berkicau, Anthony de Mello SJ)
Sering orang mengira agama atau kepercayaan merekalah yang paling benar,
pandangan orang lain salah semua. Hal ini yang membuat mereka memandang rendah
agama lain yang lalu menimbulkan perpecahan, perselisihan dan peperangan.
Kerusuhan yang kerap melanda Indonesia
pun juga tak lepas dari persoalan perbedaan keyakinan. Masih terdapat golongan2
yang tak suka dengan golongan lain, ada juga yang saling mencurigai pihak lain.
Satu pihak menuduh pihak lain hendak memurtadkan umatnya, yang lain takut akan teror
dan diskriminasi dari pihak lain. Seperti bara api yang masih membara di dalam
sekam, yang mana tak terlihat dari luar, bila suatu saat terdapat percikan yang
menyulut, akan membuat semuanya terbakar.
Bukankah sebenarnya agama adalah sebuah penunjuk jalan
kepada kebenaran? Kebenaran yang mutlak yang tak bisa diombang-ambingkan oleh
jaman yang terus berubah. Meskipun demikian, jangan sampai kita terlalu terpaku
pada penunjuk jalan tersebut, tapi coba lihatlah pada sesuatu yang ditunjuk
oleh penunjuk jalan tersebut.
Memang aku merasa ini perlu pemahaman yang mendalam, aku
sendiri masih sulit untuk melihat dan memahami apa yang sebenarnya ditunjuk
oleh agama. Setidaknya saya berusaha untuk tidak menghakimi agama lain. Berikut
ada lagi kutipan, juga dari Anthony de Mello:
AGAMA DAN JARI
"Kepercayaan agama," kata Sang Guru, "bukanlah pernyataan
akan Realitas, tetapi sebuah petunjuk, yang mengarahkan pada
sesuatu yang tetap merupakan suatu misteri. Misteri itu
melampaui pemahaman akal budi manusia. Pendeknya,
kepercayaan agama hanyalah sebuah jari yang menunjuk pada
bulan.
Beberapa orang beragama tidak pernah beranjak lebih jauh
dari mengamati jari belaka.
Yang lain malah asyik mengisapnya.
Yang lain lagi menggunakan jari untuk mengucek mata. Inilah
orang-orang fanatik yang telah dibutakan oleh agama.
Sangat jarang penganut agama yang cukup mengambil jarak dari
jari mereka untuk dapat melihat apa yang ditunjuk. Mereka
inilah yang, karena melampaui kepercayaan mereka, justru
dianggap sebagai penghujat."
(Berbasa-basi Sejenak, Anthony de Mello)
0 Responses to “Tentang agama”
Leave a Reply