Beberapa waktu lalu seorang teman menanyakan kabar lewat pesan instant (IM), setelah sekian lamanya tak pernah bercakap-cakap, baik secara langsung maupun secara tak langsung. Setelah basa-basi sejenak, lalu dia menanyakan, apakah saya sudah berlampu merah. Lalu saya jawab tidak. Lalu dia minta saya menceritakan pengalaman saya dan dialog pun menjadi makin serius. Dialog berkembang ke arah hubungan dgn lawan jenis. Saya mencoba dengan sepengetahuan saya menjawab pertanyaan dia. Ternyata setelah bercakap-cakap panjang lebar, lalu dia mengaku kalau dia baru saja berlampu merah. Dan belum ada orang yang tahu, karena belum dideklarasikan ke orang lain. Saya terhenyak, pantas saja, dari tadi omongannya menjurus ke arah situ. Dalam hati saya berkata, wah, tambah satu lagi teman yang telah berlampu merah.
Cerita selanjutnya tak perlu kuceritakan lagi. Setelah kulihat2, memang makin banyak saja teman yang telah berlampu merah. Dari status di friendster beberapa teman telah berubah status, mulai dari domestic partnertship, it’s complicated, in relationship, bahkan married! Entah sudah menikah sungguhan atau tidak itu. Ketika saya bersua dengannya, dia tetap seperti biasa, bahkan ternyata sedang LDR. Berarti itu cuma buat iseng2 sahaja. Beberapa hari lalu aku baru saja tahu kalau salah satu saudaraku juga sudah berganti status. Sementara yang lain masih dalam daftar tunggu mengingat banyaknya teman yang sedang dalam lampu kuning atau oranye, seperti yang dia katakan sendiri kpd saya. Dalam semester ini saya menyaksikan ada beberapa teman saya yang punya gebetan freshie2, ada yang terlihat putus asa, ada yang merasa kebingungan, seperti yg terlihat di statusnya, it’s complicated. Beberapa di antaranya saling bersaing, baik terang2an atau tidak. Sementara yang sudah ada gandengan, ada yang bermasalah. Saya kurang tahu sih mengenai hal ini, saya hanya melihatnya sekilas saja, tak tahu masalah yang sebenarnya terjadi.
Dalam hati saya tersenyum saja. Kalau saya sendiri bagaimana? Kalau saya melihat2, sepertinya jodoh datangnya masih jauh. Entah di mana dia berada. Mungkin saja suatu saat kelak, banyak kawan saya satu persatu yang menikah, dan saya diundang ke pesta perjamuannya. Dan satu persatu meninggalkan saya. Tapi biar saja. Suka atau tidak suka, coba nikmati saja apa yang didapat kelak. Saya mencoba untuk tidak berpikir yang aneh2 dan mencari sisi positifnya.
Kalau dipikir2 lagi, terkadang saya heran dan timbul pertanyaan2 dari diri saya seperti, mengapa sih ketika seseorang ‘jadian’, banyak temannya yang mengucapkan selamat dengan disertai ucapan seperti, ”Waduh, jadi iri”; “Semoga awet sampai ke anak cucu dan Happily ever after” serta tak lupa, “ Jangan lupa traktirannya” Biasanya traktiran itu yang paling sering diucapkan. Saya dulu ketika pertama mendengar orang berkata seperti itu agak heran, kenapa harus traktir2. Dulu pikiranku sih mulainya orang pacaran kan ikrar yang diucapkan yang melibatkan kedua belah pihak, dan tidak melibatkan orang lain. Kenapa perlu dirayain dengan makan2 seolah baru saja meraih sesuatu gelar kejuaraan. Biasanya orang yang makan2 kan di waktu pertunangan, kalau pertunangan itu dirayakan, atau perjamuan pernikahan. Masak baru mulai pacaran sdh ngajak makan2? Pada kenyataannya saya juga tak pernah mendengar orang yang begitu ‘jadian’ lalu traktir2 makan. Atau mungkin saya yang tak pernah diundang kalau ada traktiran macam itu ya? Apapun itu, saya pribadi tak pernah bilang kalau saya menunggu traktiran, maka ya kalau tak diundang ya wajar saja. Kan saya sendiri juga tak pernah berharap.
Ketika melihat gelagat dan perilaku teman2 saya, terkadang timbul pertanyaan, memang kalau suka itu mesti sampai jadian ya? Melihat ada teman yang baru saja kenal bbrp minggu terus lgsg ditembak. Mendengar percakapan teman2, seolah2 tujuan mereka adalah nantinya menembak dan akhirnya jadi pacarnya. Saya sendiri tak pernah sungguh2 ingin seseorang menjadi kekasihku, karena saya merasa masih ada yang kurang pada diri saya dan nampaknya masih belum saatnya bagiku. Memang sih kalau sesuatu hal yang tak punya tujuan akhir, jadi tak berarah. Tapi kalau tujuan akhirnya cuma hanya demi pacaran saja itu kurasa juga kurang kuat. Tak ada arah mau dibawa ke mana pacaran nantinya. Makanya banyak orang yang lalu salah jalan, hubungan cepat kandas, atau terjadi hal2 yang tdk diinginkan.
Ada lagi yang biasanya orang bilang, “wah cocok2, mukanya mirip pula”. Padahal orangnya itu cuma diberitahu gambarnya saja, belum ketemu orangnya dan belum tahu sifat2nya. Kalau saya sendiri biasanya tak langsung bilang cocok, atau bahkan malah gak bilang kalo cocok, hanya bilang semoga ini memang jalan yang terbaik dan semoga tidak salah jalan. Jalan yang digariskan dari Tuhan itu tak selamanya lurus, sering sekali berliku2 atau patah2. Terkadang kita harus melewati kegagalan, kegetiran, atau perpecahan dahulu sebelum mencapai garis akhir. Maka dari itu saya juga tak bisa begitu langsung percaya kalau orang ini cocok kalau saya tak menyelidiki lebih mendalam dan yang lebih penting lagi minta hikmat dari Tuhan supaya tak salah dalam melangkah. Mengenai muka yang mirip, itu menurutku sungguh omong kosong belaka. Tak ada hubungannya. Mana bisa orang yang sudah ‘jadi’ lama2 mukanya jadi lebih mirip. Lalu yang belum ‘jadi’ sudah mirip trs dibilang cocok.
Dulu saya bertanya2 kenapa orang kok bisa merasa sedih kalau seseorang yang disukai menolak dia. Setelah kupikir2, itu disebabkan karena orang yang memberikan cintanya kepada orang lain, tentunya ingin setidaknya dibalas cintanya. Karena manusia ingin mencintai dan dicintai dgn sepenuh hati. Saya jadi teringat pengakuan teman saya, dia dulu sampai nggak makan nggak minum sampai 30 jam! Pikiran jadi kosong, dan bahkan sempat terlintas pikiran hendak bunuh diri! Waks, itu benar2 kena depresi namanya. Saya kira itu berlebihan. Dia terlalu berlebihan dalam menyikapi. Karena dgn depresi hingga bunuh diri pun tidak bakal mengubah rasa di hati.
Saya teringat kejadian yang telah terjadi beberapa bulan yang lalu. Ketika itu saya sedang bercakap-cakap dengan 2 orang teman saya. Pembicaraan mengalir kesana kemari hingga lalu pembicaraan mengarah ke kawan2 yg telah berpacaran. Kira2 salah satu percakapannya seperti berikut, teman saya yg cewek bilang, "Si ini (censored) dulu waktu msh LDR pernah dobel sama org lain. Memang orangnya cakep sih, kenapa enggak? Asal pacarnya nggak tahu aja. Kalau gue punya wajah cakep, kenapa enggak kalo mau dobel, tripel, ato lebih, mumpung masih laku." Sontak ku terkejut mendengar pengakuan itu. Lalu ku bertanya pada teman cowok di sebelahku, "Kalau misalnya pacarmu selingkuh, kamu gimana?" Trs dia jawab, "Ya nggak apa-apa atuh, asal gak ketahuan ya gak apa-apa…" Hah, langsung ku terkesiap dan terperangah mendengar jawaban polos itu. Segera saja saya merasa kalau cara pandang saya paling asing atau paling nyeleneh kalo dibandingkan dengan org2 lain. Saya jadi bingung dan nggak habis pikir bahkan sampai sekarang ini masih tetap teringat kejadian tsb. Yah, ternyata begitulah pandangan dunia. Sangat berbeda dgn pandangan kristiani. Banyak orang di dunia yang menganggap remeh pacaran. Dari film2 dan sinetron2 bisa dilihat bagaimana anak muda jaman sekarang yg perilaku dlm pacarannya suka putus-ganti.
Sebenarnya benar gak sih, kalau cinta itu hanya mengandalkan perasaan? Asal ada rasa, ungkapkan saja, akan lebih menyakitkan kalau dia tidak tahu ttg perasaan di hatimu.
begitu kira2 pendapat sebagian orang. Sekarang, setelah kupikir2 lagi, saya tidak percaya dgn hal semacam itu. Saya merasa bahwa feeling saja tidak cukup, karena itu bisa saja hanyalah kegilaan sesaat saja. - artikel ttg kegilaan sesaat sdh kupost beberapa hari lalu dan bisa dilihat di bawah - Saya merasa ada sesuatu yang lain, yang lebih dari sekedar perasaan saja. Saya pernah membaca buku Boy Meets Girl dan di sana tertulis, don’t follow your feelings until you’ve tested them. Wait until romance can be guided by wisdom. You are ready to start a courtship when you can match romance with wisdom. Ada lagi, When you are close emotionally, you give away part of your heart. Maka dari itu, jgn macam2 dgn romance.
Kadang aku bertanya2 pula, apa benar kalau pacaran itu sebegitu menyenangkannya sehingga orang2 begitu inginnya untuk pacaran. Temanku yang sdh pernah pacaran pernah bilang kalau pacaran tidak sesenang spt yg terlihat pada pasangan yang sedang berasyik-masyuk, banyak juga saat2 di mana banyak gak enaknya, terutama ketika ada masalah melanda.
Begitu juga dgn pernikahan. Waktu ku masih kecil seringkali mendengar cerita anak2 yang berakhiran, "Maka akhirnya sang pangeran pun hidup bahagia dgn sang putri untuk selama-lamanya" atau "happily ever after". Dalam kebudayaan Tionghoa, dalam pesta pernikahan selalu ada tulisan
yang mana berasal dari huruf 喜 (xi – like, happy) yang ditulis berdampingan, jadi
berarti double happiness. Pernikahan dianggap sebagai sesuatu yang membahagiakan seperti ada kebahagiaan dobel. Jika memang pernikahan itu membahagiakan, mengapa banyak orang yg putus-cerai? Seperti yang kita lihat, tak usah jauh2 di negara lain, di kalangan artis2 Indonesia, belakangan ini banyak yg mau bercerai, seperti Tamara, Ulfa, Kiki Fatmala dan org2 yg telah lama menikah pun jg mengajukan gugatan cerai, seperti Koes Hendratmo dan Helmy Yahya. Kenapa pula sampai mesti ada orang sebelum nikah menandatangani perjanjian dulu spy nanti ketika bercerai tidak bakal menuntut yang macam2? Saya kira sebenarnya pernikahan itu tergantung orang bagaimana memandangnya. Ada org yang pada saat pernikahan, ketika di kamar pengantin, baru tahu rupa pasangannya, tapi tetap langgeng sampai tua. Ada yang baru menikah sehari saja sudah cerai. Saya pernah bertanya pada teman saya, "Kalau kamu misalnya nanti jodoh nggak dapat-dapat gimana?" Dan dia menjawab,"Gue bakalan cari perempuan di Kalimantan." Waks, saya terkejut pendengar pengakuannya. Memang, banyak orang Taiwan yang cari istri di Kalimantan, karena cari istri di negaranya sulit. Lagipula org Kalimantan, terutama chinese Kalimantan Barat, bisa bercakap dalam dialek yg sama dgn org Taiwan. Sebenarnya kalo tak bisa berbicara bahasa pasangannya pun tak masalah, karena yang dipentingkan bagi mereka ialah mereka ingin membina rumah tangga. Itu saja. Baru2 ini saya baca di berita kalau di Malaysia banyak perempuan imigran dr Vietnam yang dijual untuk dijadikan istri. Dan terutama yang mencari ialah para duda, org yang lanjut usia, atau org kaya yg ingin punya istri muda. Di China, di mana rasio antara laki2 dan perempuan terus meningkat, membuat orang makin sulit saja mencari istri, ada agen yang mencarikan istri buat org2 yang ingin menikah, tentunya dgn imbalan sejumlah biaya. Pernah ada suatu kejadian, ketika menikah baru ketahuan kalau yang dinikahi itu aslinya laki-laki! Rupanya dia hanya menginginkan uang saja, hingga nekat menyamar sebagai perempuan dan mendaftar ke agen tsb. Saya jadi teringat perkataan teman saya, dia bilang kalo misalnya dia nanti suka sama orang Thailand, harus dipastikan dulu kalau dia benar2 perempuan, bukan banci! Mengingat di Thailand banci2 bisa wajah dan tubuhnya benar2 mirip wanita beneran, bahkan bisa lebih cantik. Olala, sampai sebegitunya…
Di dalam kekristenan, pernikahan adalah sesuatu yang sakral, suci. Maka dari itu perlu pemberkatan dari gereja ketika menikah. Kedua mempelai tidak dianggap lagi dua, melainkan satu, dan sekali menikah tidak bisa diceraikan. Mereka haruslah sehidup semati, dalam suka maupun duka, dalam sedih maupun susah, hingga maut memisahkan!
Yang jelas, kalau pernikahan tidak ditanggapi dgn sungguh2 dan mohon bimbingan dr Tuhan, bisa terjadi percekcokan kekacauan. Contoh ekstrimnya seperti yang pernah saya dengar, di Meksiko kalau gak salah, ada suami-istri yang bertengkar sampai menggunakan senjata api, bahkan senjata peledak! Tak heran bila keduanya akhirnya masuk ke rumah sakit. Ada-ada saja.
Bagi yang sedang mencari2 jodoh, cobalah untuk berkonsentrasi tak hanya mencari orang yang tepat, tapi bagaimana menjadi orang yang tepat. Saya sendiri masih berjuang untuk itu. Semoga bisa.
haha..
sekali-sekali boleh nih diskusi soal ini ama kamu.. =)
nice thoughts.. =)
hoho.. ya boleh2. Ini ada tambahan lagi bbrp paragraf.
Tambahan:
Kalau dalam bahasa Tionghoa pernikahan dianggap punya kebahagiaan ganda, tapi pada kenyataannya dalam kebudayaan China klasik, pernikahan cenderung dianggap penyatuan dari dua marga yg berbeda. Dan banyak pasangan yang baru mengetahui rupa pasangannya pada malam pertama pernikahan. Si pengantin bisa saja bertemu dulu dgn saudara pasangannya, tapi sering baru tahu wajahnya di malam sehabis pesta pernikahan.
Mengenai traktir2, seorang temanku bilang dia pernah ditraktir setelah membantu kedua temannya ‘jadian’. Hanya ada satu contoh sih, tapi seringnya tak terdengar ada org traktir2 kalo udah ‘jadian’.
Kata ‘jadian’ itu sendiri kalo dipikir2 agak aneh juga. Apapun itu, itu hanyalah penamaan belaka.