Archive for July, 2006

08
Jul

UAN

Akhir-akhir ini terdapat kontroversi mengenai UAN atau yang bisa disebut juga dgn Unas. Masih banyak orang yang tidak lulus UAN meski sdh berkurang persentasenya dari tahun lalu. Pemerintah pun mengaku puas, karena dianggap ada peningkatan. Tapi ada sebagian orang yang kecewa dgn ketidaklulusan UAN dan minta ujian ulangan seperti tahun lalu. Ada anak yang selalu ranking di kelasnya, lulus dalam PMDK dari Univ. favorit, bahkan mendapat bea siswa dari luar negeri, tetapi ketika Unas malah tidak lulus. Ada jg anak yg dipercaya ikut olimpiade mata pelajaran mewakili sekolahnya, ternyata juga tidak lulus. Ada yg bilang, siswa yg tidak lulus itu belum tentu bodoh, buktinya ada anak spt itu. Ada anak yg karena tidak lulus jadi depresi, bahkan katanya ada yg sampai bunuh diri! Beberapa org protes, bagaimana bisa kemampuan seseorang selama 3 tahun ditentukan dlm 3 mata pelajaran saja? Mereka ada pula yg didampingi artis dalam menyampaikan keluhannya. Seharusnya tiap sekolah yg lebih mengetahui kemampuan siswanya, bukan pem. pusat. Begitu kata mereka.

Dalam hati saya merasa agak janggal juga. Kalau mereka yg ranking di kelasnya kok bisa tidak lulus, sdgkn anak lain yg tidak ranking kok malah lulus? Ini menurutku bisa saja karena mereka terlalu meremehkan, karena dianggap sdh diterima dalam PMDK shg tidak perlu terlalu ngoyo dalam Unas. Toh, batas kelulusan cuma 4,26, bea siswa saja dapat, masak nilai segitu tidak bisa tercapai? Tapi apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur. Wapres dan menteri sdh bilang kalau tak ada ujian ulangan tahun ini. Bagi yang mau, bisa mendaftar Kejar Paket C yg mana ujiannya akan dimajukan kl gak salah pada akhir Agustus. Seakan-akan itu seperti ujian ulangan tapi secara halus mengingat pemerintah bilang kalau Kejar Paket C itu setara dgn SMA, bg univ yg tidak mau menerima lulusan Kejar Paket C nanti laporkan saja! Wah saya mendengar itu jadi geli juga. Bagaimanapun juga Univ tentu mengutamakan org yg lulus dari SMA krn tentu saja mereka dianggap lebih bisa, tdk ikut ujian ‘ulangan’. Lagipula ketika ijasah Kejar Paket C keluar tentu Univ2 besar sudah penuh, tak bisa menerima lagi mahasiswa baru, tinggal Univ2 kecil saja. Terus nanti kalau si anak sudah dewasa dan ditanyai anaknya, kalau cuma lulusan Kejar Paket C tentu dia tak bisa jawab,"Bapak dulu lulusan SMA sekian..", tapi hanya bisa menjawab "Bapak lulusan Kejar Paket C…" Tentunya dia malu, padahal dia cuma ikut Kejar Paket C selama 2 bulan. Jadi ya tentunya Kejar Paket C itu beda dan dianggap lbh rendah. Memang benar kalau anak yg lulus belum tentu lebih pintar dari yg tdk lulus, mengingat masih adanya praktik kecurangan dlm ujian. Tapi secara umum tentunya yg lulus itu lebih pintar dong! Kalau memang dia tidak bodoh tentunya bs lulus! Nilai 4,26 kan sdh angka yg rendah, termasuk nilai merah.

Pemerintah sendiri juga bilang kalau Unas yg 3 mata pelajaran itu bukan satu2nya indikator, pelajaran lain yg diujikan msg2 sekolah atau budi pekerti jg menentukan kelulusan. Tapi tentunya byk sekolah yg gengsi bila ada siswanya yg tdk lulus, makanya pel lain dianggap sdh lulus semua. Beberapa waktu lalu aku melihat di depan sebuah sekolah tertulis "SMA ini siswanya lulus 100% sekolah dilengkapi lab, dsb" untuk menarik siswa baru. Seakan2 kalau siswanya lulus semua dianggap sekolah bermutu. Padahal kalau lulus dgn jalan curang kan ya sama saja.

Saya agak heran kenapa baru akhir2 ini dipermasalahkan, kenapa tidak dari dulu? Saya ingat perkataan guru saya waktu SMP, ktnya jaman waktu dia sekolah dulu, tiap tahun satu kls yg tdk naik 9 anak itu sdh biasa. Dan waktu ujian nasional SMA gaya lama dulu soal2nya jg dari pusat dan hanya terdiri dari 6 nomor uraian! Jadi ya siswa belajar susah payah 3 tahun yg keluar hanya 6 nomor itu! Makanya yg lulus sekelas bisa cuma 10 org saja! Dan ada yg menempuh pendidikan SMAnya selama 5 tahun. Kalau menurutku memang seharusnya seperti itu, buat apa ijasah yg bagus2 tapi kalau pada kenyataannya tidak bisa apa2, bahkan secara moral jadi lebih rusak. Contohnya bisa terlihat di waktu kelulusan ada saja siswa yg konvoi di jalanan, menguasai jalan, hingga bertindak anarkis. Ada siswa yg ketika masuk SMA masih alim, dan selama di SMA dipengaruhi sana sini, harus ikut geng tertentu, kalau ada tawuran antar sekolah harus ikut, kalau tidak akan dikucilkan, atau yg lebih parah lg akan diganggu terus. Kalau setelah lulus SMA jadi lebih bobrok, seharusnya tak perlu diluluskan saja! Guru juga harus benar2 jadi panutan yg baik, bersih, tdk melakukan KKN, jujur. Kalau gurunya sendiri enggan mengajar, sering bolos, ya muridnya jg jd bobrok. Seperti ada pepatah, guru kencing berdiri, murid kencing berlari.

Jadi apakah perlu ujian dari pemerintah? Menurutku masih perlu, karena jika tidak sekolah akan cenderung utk meluluskan semua siswanya. Cuma sistem pengujian itu yg betul2 harus diperhatikan supaya bisa benar2 menghasilkan lulusan yg bermutu. Di negara lain ada yg namanya ujian A level atau O level. Di negara Cina setiap tahun selama 2 ribu tahun diadakan ujian negara yg mana org yg lulus ujian diangkat menjadi pejabat kerajaan. Banyak anak muda dan bahkan org tua yg mencoba tiap tahun ikut ujian. Dan memang selalu ada org yg tidak lulus. Kalau ujian semuanya lulus, itu seakan hanya sebagai pengesah kelulusan belaka! Einstein saja dulu pernah tidak lulus ujian Matematika! Dan bagi yang tidak lulus seharusnya tidak berkecil hati dan menyalahkan org lain saja. Seharusnya bertanya pada diri sendiri, apakah dgn usaha selama ini sudah layak untuk lulus? Apakah dgn lulus berarti sudah mengerti pelajaran yg diujikan? Mengingat format ujian yg hanyalah pilihan ganda. Kalau memang belum mengerti maka akan lebih baik kalau mengulang kembali supaya lebih paham dgn pelajaran tsb. Walaupun untuk itu harus mengulang satu tahun.