Dalam letusan gunung Merapi baru2 ini, yang mana dikatakan teraktif di dunia, nama Mbah Maridjan atau Raden Ngabehi Suraksohargo tiba2 saja jadi nama yg sering disebut2. Dia menjadi fenomena dan menjadi bahan berita baru. Sebagai juru kunci gunung Merapi banyak pihak yg berusaha mewawancarainya silih berganti. Tiba2 saja dia jadi terkenal di seluruh dunia. Bahkan langsung ada namanya di Wikipedia. Bapak tua berumur 79 thn ini berani mendekati kawah Merapi sendirian untuk melakukan ritual. Bersamaan dgn datangnya Pres. SBY dia tiba2 saja menghilang. Sebagian penduduk tak mau segera mengungsi krn menunggu wangsit yg turun ke Mbah Maridjan. Meski abu sdh menghujani rumahnya yg hanya 5 km dr puncak Merapi, tapi dia bersikeras baru mengungsi kalo sudah dpt wangsit dari Almarhum Sri Sultan Hamengkubuwono IX, org yg menunjuknya mjd juru kunci Merapi, menggantikan ayahnya. Yang unik, ternyata menjadi juru kunci ada sekolahnya, saat ini saja ada 25 org magang kepada Mbah Maridjan. Sedangkan dia sendiri dulunya jg magang pada ayahnya.
Sebenarnya kasihan juga. Mbah Maridjan itu sudah tua, harus tiap hari menerima tamu bejibun, yg mana byk yg melontarkan pertanyaan spt, "Mbah, sebenarnya Merapi kapan akan meletus?" Dan dia cm menjawab, "Jangan tanya saya, tanyakan kepada Gusti Allah yg punya kehendak." Dia sampai kurang istirahat.
Tapi sekarang perhatian dunia sdh beralih pada gempa bumi yang melanda
Bantul yang mana lebih dari 800 org yg rumahnya rusak. Ada pula juru
kunci Pantai Parangkusumo Raden Panewu
Suraksotarwono, yg mana penampilannya tidak khas warga desa spt Mbah
Maridjan, lebih spt anak muda dan bermobil. Sebagai sama2 juru kunci, dia bertugas menjaga pantai Selatan.
Sejak gempa, nama Mbah Maridjan seolah terlupakan. Yah, memang begitulah media, lebih suka memberitakan berita yg lagi ngetren saja. Bbrp waktu lalu Megawati mengaku telah menyiapkan polis asuransi untuk Mbah Maridjan. Tapi uniknya, Mbah Maridjan tak tahu-menahu, bahkan tak tahu apa itu polis asuransi. Dan setelah dijelaskan, dia hanya mengatakan sebenarnya dia tak mengharapkan hadiah. Yg penting kerelaan hati, katanya. Bahkan Mbah Maridjan sampai ditawari tiket gratis nonton Piala Dunia dari Gubernur Munich. Dan tiket itupun ditolaknya pula.
Yah, begitulah sosok yang begitu setia menjalankan tugasnya, walau cuma digaji kecil oleh keraton. Orang semacam itu yang langka pada zaman sekarang ini di negeri Indonesia. Walau dalam situasi apapun tetap tak takut dan terus mengjalani tugasnya. Pengabdiannya yg tanpa pamrih berbeda dgn org2 jaman skrg ini. Hal2 semacam inilah yg seharusnya ditanamkan ke generasi muda Indonesia kalo sehingga Indonesia tak makin terpuruk, dan rakyatnya hanya mau menangnya sendiri, asalkan diri sendiri berkecukupan, sdh tak peduli sekitarnya.
NB: Topiknya sudah agak basi sih, tp gpp.