Willkommen bei der Weltmeisterschaft zweitausendsechs!
Selama sebulan ke depan dunia dihibur oleh atraksi2 dan unjuk kebolehan dari bintang2 Fuβball yg datang dari seluruh penjuru dunia. Semua perhatian tertuju ke Deutchland sebagai tuan rumah hajatan besar ini. Banyak media massa berlomba2 menampilkan berita mengenainya. Begitu pula dgn hajatan besar kali ini. Tak hanya media, tapi juga banyak masyarakat yg turut berpesta menyambutnya. Titik Soeharto pun tak ketinggalan menjadi presenter. Bahkan kabarnya ada pawai di Jakarta pada hari menjelang kick-off, padahal Indonesia sendiri tidak ikut serta di piala dunia. Dan ketika acara pembukaan tak ditayangkan oleh SCTV, banyak penonton yang kecewa. Begitu pula ketika Kabelvision tidak menayangkan piala dunia. Padahal dikatakan bahwa diperkirakan 1.5 miliar orang menonton acara pembukaan tsb. Maka, beruntunglah saya di sini masih bisa menonton seluruh acara di TV room.
Dulu, 4 thn lalu di kejuaraan yg sama, aku masih ingat bahwa di koran2 berita mengenainya diulas besar2, analisis sebelum pertandingan diulas sampai satu halaman penuh. Dan setelah satu pertandingan usai hasilnya selalu muncul di halaman pertama disertai dgn gambar2 hasil bidikan fotografer.
Demam bolamania bisa membius siapa saja dan di mana saja. Seingatku ketika tahun 2002 lalu di Ambon, masyarakat ikut terlena dgnnya sehingga kerusuhan pun ikut mereda sejenak. Pertandingan liga Indonesia pun diliburkan sebulan. Belum lagi diramaikan dgn penjudi2 bola di seantero negeri. Biasanya di koran, ikut disertakan pula unggulan2 dari Asianhandicap atau bandar2 judi yg lain. Memang itu bisa membuat masyarakat tahu, mana saja tim yg diunggulkan, tapi itu juga membuat para penjudi lebih mudah memperoleh info. Begitu pula bandar2 judi.
Begitu dahsyatnya dampak yang ditimbulkan oleh bola, sehingga membuat org menghabiskan waktunya bbrp jam tiap harinya untuk menonton bola, belum lagi waktu utk membaca ulasan mengenai sepak bola di media massa. Juga membeli pernak-pernik piala dunia. Semuanya itu tentu menyita waktu dan biaya.
Sebenarnya sepak bola itu sendiri tidak begitu istimewa. Intinya sederhana saja, satu bola diperebutkan 22 orang di satu lapangan dan tujuannya memasukkan bola ke gawang tanpa memakai tangan. Tapi banyak hal yang mewarnai pertandingan, seperti pelanggaran, suporter, rasa marah, senang, sedih bercampur menjadi satu. Perkelahian bisa terjadi baik di lapangan maupun di luar lapangan. Pemain yang kecewa dgn wasit bisa mengeroyok wasit, dan penonton yang kecewa bisa merusak stadion dan merusak fasilitas2 umum di luar serta kendaraan2 yg lewat di jalanan.
Kemarin aku baru tahu kalo ternyata pertandingan sepak bola bisa menyebabkan perang! Hal itu terjadi pada kualifikasi piala dunia tahun 1970 antara Honduras melawan El Salvador. Memang sebelum pertandingan sudah ada gesekan antar dua negara. Tapi kerusuhan usai pertandingan yg menewaskan sejumlah suporter seakan menyalakan api dlm kotak mesiu. Bulan berikutnya, perang yg terkenal dgn nama soccer war pun meletus. Meski hanya terjadi selama 6 hari, tapi berdampak besar pada ribuan penduduk. Total ada 2000 org tewas, byk penduduk yg homeless dan mengungsi. Puluhan ribu penduduk El Salvador yg tinggal di Honduras pulang kembali ke negerinya. Yang membuat usaha pemulihan sehabis perang menjadi makin runyam. Hasilnya, semua pihak mengalami kerugian, tak ada yg menang. Perang memang selalu menyebabkan kerugian.
Pemain sepakbola, terutama di Eropa, digaji sedemikian tinggi. Padahal hasil yg didapat tidaklah begitu besar. Malah membuat org jadi kurang produktif, pekerjaan menjadi terbengakalai, bahkan hubungan pribadi dgn Tuhan pun menjadi terganggu. Dulu aku pernah dengar, di Inggris sampai acara kebaktian di gereja ikut disesuaikan dgn jadwal sepak bola. Karena jika tidak, maka yg dtg hny segelintir saja. Di negara2 seperti Italia atau Inggris, sepakbola seolah menjadi ‘agama’ bagi mereka. Ada harian yg hanya mengulas sepakbola saja.
Barusan aku baru tahu kalo ada org yg sampai mengundurkan diri dari
pekerjaannya karena ingin nonton langsung piala dunia. Benar2 org yg
menomorsatukan bola di atas segalanya! Memang sepakbola tak pernah menjadi dasar konstitusi suatu negara dan
tak ada agama yg melarang sepak bola. Tapi, apabila hal tersebut telah
melanggar nilai2 keagamaan dan membuat org semakin lupa dgn Tuhan,
bahkan memakan banyak korban jiwa, tentulah ada suatu hal yang salah di
dlmnya. Bola memang menarik, tapi jangan sampai terlena di dlmnya karena itu adalah bujukan iblis untuk menggoda manusia utk semakin jauh dgn Tuhannya. Kita semua harus mawas diri terhadapnya!