Archive for June, 2006

11
Jun

Fuβball Welt Meisterschaft

Willkommen bei der Weltmeisterschaft zweitausendsechs!

Selama sebulan ke depan dunia dihibur oleh atraksi2 dan unjuk kebolehan dari bintang2 Fuβball yg datang dari seluruh penjuru dunia. Semua perhatian tertuju ke Deutchland sebagai tuan rumah hajatan besar ini. Banyak media massa berlomba2 menampilkan berita mengenainya. Begitu pula dgn hajatan besar kali ini. Tak hanya media, tapi juga banyak masyarakat yg turut berpesta menyambutnya. Titik Soeharto pun tak ketinggalan menjadi presenter. Bahkan kabarnya ada pawai di Jakarta pada hari menjelang kick-off, padahal Indonesia sendiri tidak ikut serta di piala dunia. Dan ketika acara pembukaan tak ditayangkan oleh SCTV, banyak penonton yang kecewa. Begitu pula ketika Kabelvision tidak menayangkan piala dunia. Padahal dikatakan bahwa diperkirakan 1.5 miliar orang menonton acara pembukaan tsb. Maka, beruntunglah saya di sini masih bisa menonton seluruh acara di TV room.

Dulu, 4 thn lalu di kejuaraan yg sama, aku masih ingat bahwa di koran2 berita mengenainya diulas besar2, analisis sebelum pertandingan diulas sampai satu halaman penuh. Dan setelah satu pertandingan usai hasilnya selalu muncul di halaman pertama disertai dgn gambar2 hasil bidikan fotografer.

Demam bolamania bisa membius siapa saja dan di mana saja. Seingatku ketika tahun 2002 lalu di Ambon, masyarakat ikut terlena dgnnya sehingga kerusuhan pun ikut mereda sejenak. Pertandingan liga Indonesia pun diliburkan sebulan. Belum lagi diramaikan dgn penjudi2 bola di seantero negeri. Biasanya di koran, ikut disertakan pula unggulan2 dari Asianhandicap atau bandar2 judi yg lain. Memang itu bisa membuat masyarakat tahu, mana saja tim yg diunggulkan, tapi itu juga membuat para penjudi lebih mudah memperoleh info. Begitu pula bandar2 judi.

Begitu dahsyatnya dampak yang ditimbulkan oleh bola, sehingga membuat org menghabiskan waktunya bbrp jam tiap harinya untuk menonton bola, belum lagi waktu utk membaca ulasan mengenai sepak bola di media massa. Juga membeli pernak-pernik piala dunia. Semuanya itu tentu menyita waktu dan biaya.

Sebenarnya sepak bola itu sendiri tidak begitu istimewa. Intinya sederhana saja, satu bola diperebutkan 22 orang di satu lapangan dan tujuannya memasukkan bola ke gawang tanpa memakai tangan. Tapi banyak hal yang mewarnai pertandingan, seperti pelanggaran, suporter, rasa marah, senang, sedih bercampur menjadi satu. Perkelahian bisa terjadi baik di lapangan maupun di luar lapangan. Pemain yang kecewa dgn wasit bisa mengeroyok wasit, dan penonton yang kecewa bisa merusak stadion dan merusak fasilitas2 umum di luar serta kendaraan2 yg lewat di jalanan.

Kemarin aku baru tahu kalo ternyata pertandingan sepak bola bisa menyebabkan perang! Hal itu terjadi pada kualifikasi piala dunia tahun 1970 antara Honduras melawan El Salvador. Memang sebelum pertandingan sudah ada gesekan antar dua negara. Tapi kerusuhan usai pertandingan yg menewaskan sejumlah suporter seakan menyalakan api dlm kotak mesiu. Bulan berikutnya, perang yg terkenal dgn nama soccer war pun meletus. Meski hanya terjadi selama 6 hari, tapi berdampak besar pada ribuan penduduk. Total ada 2000 org tewas, byk penduduk yg homeless dan mengungsi. Puluhan ribu penduduk El Salvador yg tinggal di Honduras pulang kembali ke negerinya. Yang membuat usaha pemulihan sehabis perang menjadi makin runyam. Hasilnya, semua pihak mengalami kerugian, tak ada yg menang. Perang memang selalu menyebabkan kerugian.

Pemain sepakbola, terutama di Eropa, digaji sedemikian tinggi. Padahal hasil yg didapat tidaklah begitu besar. Malah membuat org jadi kurang produktif, pekerjaan menjadi terbengakalai, bahkan hubungan pribadi dgn Tuhan pun menjadi terganggu. Dulu aku pernah dengar, di Inggris sampai acara kebaktian di gereja ikut disesuaikan dgn jadwal sepak bola. Karena jika tidak, maka yg dtg hny segelintir saja. Di negara2 seperti Italia atau Inggris, sepakbola seolah menjadi ‘agama’ bagi mereka. Ada harian yg hanya mengulas sepakbola saja.

Barusan aku baru tahu kalo ada org yg sampai mengundurkan diri dari
pekerjaannya karena ingin nonton langsung piala dunia. Benar2 org yg
menomorsatukan bola di atas segalanya! Memang sepakbola tak pernah menjadi dasar konstitusi suatu negara dan
tak ada agama yg melarang sepak bola. Tapi, apabila hal tersebut telah
melanggar nilai2 keagamaan dan membuat org semakin lupa dgn Tuhan,
bahkan memakan banyak korban jiwa, tentulah ada suatu hal yang salah di
dlmnya. Bola memang menarik, tapi jangan sampai terlena di dlmnya karena itu adalah bujukan iblis untuk menggoda manusia utk semakin jauh dgn Tuhannya. Kita semua harus mawas diri terhadapnya!

07
Jun

Mbah Maridjan

Dalam letusan gunung Merapi baru2 ini, yang mana dikatakan teraktif di dunia, nama Mbah Maridjan atau Raden Ngabehi Suraksohargo tiba2 saja jadi nama yg sering disebut2. Dia menjadi fenomena dan menjadi bahan berita baru. Sebagai juru kunci gunung Merapi banyak pihak yg berusaha mewawancarainya silih berganti. Tiba2 saja dia jadi terkenal di seluruh dunia. Bahkan langsung ada namanya di Wikipedia. Bapak tua berumur 79 thn ini berani mendekati kawah Merapi sendirian untuk melakukan ritual. Bersamaan dgn datangnya Pres. SBY dia tiba2 saja menghilang. Sebagian penduduk tak mau segera mengungsi krn menunggu wangsit yg turun ke Mbah Maridjan. Meski abu sdh menghujani rumahnya yg hanya 5 km dr puncak Merapi, tapi dia bersikeras baru mengungsi kalo sudah dpt wangsit dari Almarhum Sri Sultan Hamengkubuwono IX, org yg menunjuknya mjd juru kunci Merapi, menggantikan ayahnya. Yang unik, ternyata menjadi juru kunci ada sekolahnya, saat ini saja ada 25 org magang kepada Mbah Maridjan. Sedangkan dia sendiri dulunya jg magang pada ayahnya.

Sebenarnya kasihan juga. Mbah Maridjan itu sudah tua, harus tiap hari menerima tamu bejibun, yg mana byk yg melontarkan pertanyaan spt, "Mbah, sebenarnya Merapi kapan akan meletus?" Dan dia cm menjawab, "Jangan tanya saya, tanyakan kepada Gusti Allah yg punya kehendak." Dia sampai kurang istirahat.

Tapi sekarang perhatian dunia sdh beralih pada gempa bumi yang melanda
Bantul yang mana lebih dari 800 org yg rumahnya rusak. Ada pula juru
kunci Pantai Parangkusumo Raden Panewu
Suraksotarwono, yg mana penampilannya tidak khas warga desa spt Mbah
Maridjan, lebih spt anak muda dan bermobil. Sebagai
sama2 juru kunci, dia bertugas menjaga pantai Selatan.

Sejak gempa, nama Mbah Maridjan seolah terlupakan. Yah, memang begitulah media, lebih suka memberitakan berita yg lagi ngetren saja. Bbrp waktu lalu Megawati mengaku telah menyiapkan polis asuransi untuk Mbah Maridjan. Tapi uniknya, Mbah Maridjan tak tahu-menahu, bahkan tak tahu apa itu polis asuransi. Dan setelah dijelaskan, dia hanya mengatakan sebenarnya dia tak mengharapkan hadiah. Yg penting kerelaan hati, katanya. Bahkan Mbah Maridjan sampai ditawari tiket gratis nonton Piala Dunia dari Gubernur Munich. Dan tiket itupun ditolaknya pula.

Yah, begitulah sosok yang begitu setia menjalankan tugasnya, walau cuma digaji kecil oleh keraton. Orang semacam itu yang langka  pada zaman sekarang ini di negeri Indonesia. Walau dalam situasi apapun tetap tak takut dan terus mengjalani tugasnya. Pengabdiannya yg tanpa pamrih berbeda dgn org2 jaman skrg ini. Hal2 semacam inilah yg seharusnya ditanamkan ke generasi muda Indonesia kalo sehingga Indonesia tak makin terpuruk, dan rakyatnya hanya mau menangnya sendiri, asalkan diri sendiri berkecukupan, sdh tak peduli sekitarnya.

NB: Topiknya sudah agak basi sih, tp gpp.

02
Jun

Current issue

Akhirnya masalah ttg kerukunan umat beragama di NTU berakhir sudah dgn diadakannya forum, atau mgkn lbh tepat telah dianggap berakhir. Masalah yg muncul saat org lagi stress2nya dgn exam. Ini mengingatkanku pada kejadian yg sering terjadi di Indonesia. Saya jg baru sadar kalo ternyata walo tidak sdg berada di tanah air, tp gaungnya jg terasa sampai di sini. Kejadian2 seperti kerusuhan2 di tanah air, usaha2 penutupan gereja sampai ada SKB dua menteri atau yg ktnya diganti jd peraturan 2 menteri, trs sempat pula kudengar akan diadakan forum antar umat beragama. Aku krg mengikuti perkembangannya sih, tapi aku tak menyangka kalo anak Indo di NTU sini jg kena imbasnya.

Bbrp waktu lalu aku membaca blog punyanya Suhu, dia menganalogikan masalah ini dgn "Balada Penjual Lumpia dan Bakpia". Isinya memang cocok sih, dan bisa lebih menyegarkan, jd ada variasi. Mengenai kejadian pemicunya secara detil, lebih baik tak usah kuceritakan deh. Lagipula itu topik sdh basi. Yang jelas forum yg sedianya direncanakan akan diadakan segera setelah exam, yaitu tgl 8 Mei, ternyata diundur jadi 22 Mei, dan itu pun diundur lagi hingga tgl 27 Mei. Akhir bulan baru kelar. Dalam forum itu sedianya tiap agama diwakili oleh 3 org. Dan mereka berdialog dan membuat suatu kesepakatan, meski tidak sampai hitam di atas putih sih. Awalnya banyak org yg kuatir. Wah, ini bakal rame nih, sampai2 pihak PINTU memutuskan dialog ini bersifat tertutup. Tak boleh ada penonton. Masing2 pihak pun sibuk mengonsolidasikan segenap kekuatan. Terutama 2 pihak yg bermasalah. Utk pihak Hindu sih cm ada 2 org perwakilannya. Untuk Buddha malah cm satu, itupun maincomm PINTU. Anak graduate pun turun tangan, ada jg yg melibatkan alumni, minta pendapat sana sini, hingga Pak Benyamin jg tahu dan ikut memberi masukan. Terkesan semua menganggapnya sebagai hal yg serius. Bahkan ada yg menyaranin untuk berdoa dan berpuasa demi kelancaran forum. Masing2 kubu pada mengelus jagonya masing2, jago2 mereka diberi ‘makan’ dan ‘minum’ yg cukup, serta diasah taji2 mereka spy jadi ‘kuat’ dan bisa ‘bertarung’, menghadapi segala kemungkinan. Moderatornya pun sampai merasa tidak cukup perbekalannya, merasa belum menguasai medan, shg perlu diundur. Alhasil, forum pun baru diadakan 5 hari kemudian. Dan hasilnya…. ternyata ketika forum tak ada gejolak, semuanya jg damai2 saja. Tak ada otot2an, tak ada gontok2an. Memang semua org terlalu berpikiran macam2. Anak2 di NTU adalah mmg anak yg intelek, yg tidak grusa-grusu dalam mengambil tindakan, terutama tindakan anarkis. Apalagi yg terpilih adalah org yg terpandang di klpnya msg2 dan yg dianggap bijaksana. Mestinya mrk jg bakal sadar sendiri. Karena jika tidak, nama baik klp mrk bakal tercoreng.
Dan dengar2 sih hasil akhirnya tiap pihak harus bertoleransi, mencoba mengerti pihak lain, sdgkn yg tdk suka, lewat japri saja, jgn dilempar ke publik. Mengenai isi lengkapnya aku belum mendengar kabarnya. Mgkn PINTU blm sempat jg ngurusinnya mengingat tepat bbrp jam sebelum forum dilaksanakan, di hr yg sama, Jogjakarta digoyang gempa. Yah, ada aja masalah yg dtg menggantikan masalah yg lama. Dan org2 pun sdh mulai lupa dgn forum.

Ini tadi aku menghadiri doa bersama utk korban di Jogja. PINTU telah bekerja sama dgn redcross utk menggalang dana, meminta sumbangan di hall-hall dari pintu ke pintu. Yg aku baru tahu adalah ternyata episentrum dr gempa tersebut berada di darat, bkn di laut! Pantas kok bisa terjadi kerusakan separah itu. Sebelumnya kupikir episentrum berada bbrp kilo di laut. Dikatakan di Bantul semuanya sampai rata dgn tanah. Belum lagi dgn gempa susulan, dikatakan sdh terjadi 800 gempa susulan. Rumah yg sebelumnya belum roboh, kalo kena berulang2 kali lama2 akan roboh juga.
Trus setelah Jogja, ganti di tmpt lain yg kena. Di Papua terjadi 2 kali di tmpt yg berbeda dgn kekuatan yg hampir sama dgn di Jogja, tp tak terdengar kabarnya. Sementara itu di Sumbar jg ada gempa, meski lebih kecil. Belum lagi diberitakan korban flu burung meningkat. Satu org mati tiap 2.5 hari krn flu burung, kalo gak salah kapan lalu kulihat beritanya begitu.

Yah2, masalah mmg datang silih berganti. Dalam hati aku merasa, dalam setengah tahun mendatang akan ada bencana yg lebih dahsyat lagi yg menimpa. Apakah itu bencana atau perang atau kerusuhan atau percekcokan, aku tak tahu. Begitu pula akankah hal itu terjadi di Indonesia ataukah di negara lain aku jg tak tahu. Yah, tunggu saja nanti, kurasa hal2 semcm itu akan dtg dlm bln-bln yg tersisa dr thn 2006. Lihat saja….