Tak terasa lima bulan lagi usia belasan sudah berakhir. Dan aku akan menginjak usia kepala dua. Sebenarnya apa sih yang kudapat selama 10 tahun terakhir ini? Apakah dalam usia belasan aku telah melakukan hal2 yang positif, ataukah aku telah sering menyia2kan waktu?
Memang sepertinya aku selama usia belasan ini tak pernah mengalami suatu hal yg benar2 spektakuler dan juga melakukan hal2 yg sering dilakukan remaja2 lain atau yg dianggap hal yg ‘normal’ dan ‘wajib’ dilakukan oleh para remaja.
Ada yang bilang masa remaja adalah masa yang indah. Seperti dlm lirik lagu dr Chrisye:
Tiada masa paling indah
Masa-masa di sekolah
Tiada kisah paling indah
Kisah kasih di sekolah
Ada juga lagu dari Melly Goeslaw:
Ingin ku lukis semua hidup ini
Dengan cinta dan cita yg terindah
Masa muda yg tak pernah kan mendung
Ku Bahagia
Reff:
Dalam hidup ini
Arungi semua cerita indahku
Saat2 remaja yg terindah tak bisa terulang
Kalau kulihat dari film2 dan sinetron2, sering digambarkan dalam masa remaja adalah masa hura2 di mana kegiatannya seringlah hanya jalan2, mejeng di mall, bergosip dan pacaran. Gebetan dan pacaran seakan sudah menjadi identik dgn remaja, atau yg sering pula disebut ABG.
Aku sebenarnya juga mau tak mau juga terpengaruh pendapat seperti itu. Tapi dalam hati aku terkadang bertanya2, baikkah hal semacam itu? Dan batas2 yang bagaimana yg seharusnya diperbolehkan? Memang di sekolah guru telah sering memberi nasihat, kalo kita harus begini begitu, tak boleh ini itu. Hampir semua sekolah melarang siswanya untuk gondrong buat yg laki2 dan melarang rok di bawah lutut. Beberapa sekolah melarang siswanya membawa HP, bahkan ada yg memasang alat untuk mengacaukan sinyal, shg sekolah bebas dari sinyal HP!
Mengenai HP, kalo dipikir2 itu merupakan penemuan baru yang turut mengubah gaya hidup seseorang. Dulu tak pernah ada suatu alat yang mana kita bisa menghubungi seseorang kapan saja dan di mana saja, krn benar2 milik pribadi, suatu benda yang dibawa ke mana2. Apalagi dgn adanya SMS yg lebih murah bila dibandingkan dgn menelpon langsung.
Mengenai pacaran, memang terkesan bahwa pacaran itu ajang mencari jodoh, kalo cocok ya diterusin, kalo tidak ya putus saja. Banyak sekali film2 yang menceritakan ttg lika-liku cinta remaja. Teman2ku juga satu-persatu mulai pacaran, atau yang disebut juga dgn ‘jadian‘. Suatu kata baru, yg sebelumnya biasanya dipakai spt: (kl dlm kal) ada kejadian, harimau jadi-jadian, seingatku dlm pel bahasa Ind. ada pula yg disebut kata jadian. Dalam proses sebelum jadian ada istilah ‘pdkt‘ (pendekatan) yg mana terkadang mengingatkanku pada ‘limit’. =p
Ada pula istilah ‘menembak‘. Biasanya sebelumnya kata ‘menembak’ itu dipakai spt polisi menembak mati, Kapal selam menembakkan torpedo, ada pula barang2 tembakan, yg mana berarti brg palsu. Trs baru2 ini aku jg dengar ada org yg bilang, "Ah kan pilihan ganda, tembak saja!" Rupanya tembak mempunyai byk arti.
Proses jadian itu perlu ditembak dulu, apakah bidikannya kena atau meleset. Kok kesannya spt org berburu saja! Memang buaya2 di darat suka berburu :p
Bagi saya pribadi merasa agak janggal dan merasa ini tak sepenuhnya benar, mestinya dlm menjalani hubungan kan merupakan proses dari kedua belah pihak, bukan satu pihak saja yg mengintai, berburu, lalu menembaknya dan berhasil mendapatkannya, persis spt kinerja dr pemburu. Cuma dlm mayoritas budaya yg ada di dunia, pihak yg lakilah yang seharusnya menjadi inisiatif, mengingat sebag besar dunia menganut sistem patriarkal. Menurutku itu hanyalah masalah budaya saja, bukanlah naluri alamiah dr manusia.
Biasanya setelah seseorang jadian, temannya byk yg mengucapkan selamat, lalu berkata "turut berbahagia" sambil tertawa. Tak lupa pula mengatakan, "Kutunggu traktirannya ya!"
Bagi saya, pada awal mendengar hal tersebut merasa agak janggal, mestinya kalo memang sdh pacaran kan mmg urusan dr kedua belah pihak, mengapa perlu menyertakan org lain, trs biasanya org yg mengajak makan2 itu kan org yg sudah tunangan atau pernikahan. Kenapa pula msh baru sekedar pacaran sdh mengajak makan2? Padahal seringnya mereka pacaran tidak bertahan lama, paling lama setaun-dua tahun lalu putus.
Sepertinya berpacaran memang menawarkan sesuatu yg baru, bisa bermesraan berdua, merasa senang ada org yg selalu memperhatikan, dan bisa membuat seseorg melupakan beban hidup. Jadinya byk org yg berkata, "Wah, aku jadi iri melihat kalian!" Apalagi kalo ada yg berciuman di tempat umum.
Sedangkan saya sendiri selama ini belum pernah pacaran, juga belum pernah meminta seseorang menjadi pacarku atau sebaliknya, diminta seseorang untuk menjadi pacarnya. Mungkin memang belum waktunya Tuhan mengijinkan. Atau mungkin aku selama ini mmg tak pernah bener2 deket dengan cewek ya? Paling2 cuma jadi temen ngobrol, tak pernah sampai jalan2 berdua sama cewek. Ya kalo cuma jln bareng jarak dekat gt ya pernah sih, maksudku dari awal sdh berencana utk berjalan2 berdua ke suatu tempat, dan menghabiskan waktu di sana. Yang seperti itu aku tak pernah. Seingatku aku jg tak pernah masuk masuk ke kamar cewek sendirian, paling banter cuma melongok di ambang pintu. Tak sampai masuk ke dalam. Yg pernah kalo dtg barengan dgn temen, atau yg di dlm bukan hanya ada satu cewek, tp ada jg org lain di dlm. Apalagi utk hal2 yg lain spt ciuman, nulis surat2an cinta, dsb jg tak pernah.
Dulu aku pernah diketawai seseorang, "Umur brp sih? 18 thn? Umur 18 belum pernah cium sama cewek? Kamu ini apa kutu buku ya? Wah2, cewek itu gampang…" Begitu katanya. Yah, mgkn aku mmg kurang berusaha, terlalu pasif, atau kadang aku merasa bahwa aku masih banyak yg harus diperbaiki terlebih dahulu. Jadi merasa belum siap untuk pacaran. Pacaran kan butuh komitmen. Tak hanya sekedar feeling saja. Feeling saja bisa hilang, untuk mempertahankannya perlu komitmen akan suatu tujuan di depan, yaitu menuju ke pernikahan. Begitu yg kudapat dari workshop dan dari buku2 ttg relationship. Kalau mengenai pernikahan bagiku itu masih suatu hal yg jauh sekali, paling cepat 10 tahun lagi kelihatannya. Papaku malah baru menikah pada usia 39 tahun.
Sekarang aku mendengar beberapa dari temanku yg pacaran. Satu-persatu mulai hanyut terbawa arus. Meninggalkan mereka yg masih jomblo di tepian. Ada pula yg di tempatnya yg baru menemukan pujaan hati yg baru, tp belum sampai jadian. Sementara di lain pihak, ada pula yg pada berguguran, pada putus. Aku hanya bisa menyaksikan mereka semua.
Yah, sebenarnya ada hal yang patut disyukuri kalo aku tak pernah pacaran. Mungkin Tuhan tahu batas kemampuanku sampai di mana, maka dia selalu kemudian menutup jalan supaya aku tak mencapai ke arah sana. Aku jadi tak pernah merasakan seperti apa sih rasanya pacaran, yaitu ketika ada seseorg yg mencintaiku, tapi dgn begitu aku jg jd tak pernah merasakan pahitnya putus setelah sekian lama pacaran, yg mana kalo hal itu terjadi, aku mgkn bisa depressed. Dan lagi dgn demikian, suatu saat bila aku telah menemukan jodohku, aku bisa memberikan semua yg pertama dariku kepadanya. Tulisan surat cinta yg pertama, berduaan dgn cewek utk pertama, pacaran serta ciuman untuk pertama kalinya, dan pertama kalinya aku sungguh2 dgn perempuan. Dan akan sangat bagus bila itu juga sekaligus merupakan yg terakhir. Aku bisa mendedikasikan hatiku utk pertama kalinya kpdnya. Makin sedikit saja temanku yg msh diberi kesempatan demikian, bersyukur bila masih diberi kesempatan.
Aku tahu semua hal pasti ada tantangannya. Ke depan pasti ada saja cobaan yang menghadang. Yah, semoga aku bisa menghadapinya dgn tabah, ketika suatu saat semua org sdh pada berpasang2an sementara aku belum ada dan belum pernah sama sekali. Aku tahu suatu saat nanti akan ada org2 yg menganjurkanku untuk segera cari pasangan. Bahkan anjuran itu bisa datang dari org yg tak kuharapkan akan menganjurkan hal itu, spt misalnya dr keluarga. Memang skrg sih, dr keluargaku bilang kalau tak usah terburu2 cari pacar dulu. Tapi suatu saat pandangan seseorg bisa berubah. Dunia kan penuh dgn perubahan. Satu-satunya yg tak berubah dalam hidup ini adalah perubahan itu sendiri.
NB: Sori post-nya kepanjangan… Aku nulisnya sekalian saja soalnya…