15
Dec

PINDAH ALAMAT

Dengan ini saya mengumandangkan bahwa weBLOG saya sudah berpindah ke http://milasidah.wordpress.com. Sekarang ini baru merupakan pengumuman resmi dari saya. Blog ini akan dibiarkan saja seperti ini, selanjutnya saya akan terus menulis di blog baru sampai saya merasa tak puas dan ingin pindah lagi.

Salam hangat. Tabik!

13
Jul

Satu Bahasaku, Bahasa Indonenglish!

Saya menemukan artikel ttg bahasa Indonesia dari kompas. Isinya mirip artikel beberapa waktu lalu yg berjudul Cuap-cuap Tentang Bahasa, tapi dilihat dari sudut yang lain, terutama dari maraknya penggunaan bahasa Inggris yang bercampur dgn bahasa Indonesia. Saya sendiri terkadang mendengar pembicaraan yang menggunakan bahasa Indonesia dan Inggris bergantian, kalimat demi kalimat, atau antara kata dalam satu kalimat. Memang aneh kalau dipikir2, buku yang judulnya bahasa Inggris ternyata dalamnya bahasa Indonesia. Padahal pada kenyataannya kebanyakan penduduk Indonesia tidak paham bahasa Inggris, atau hanya mengerti beberapa kata saja, tidak paham kalau satu kalimat penuh dalam bahasa Inggris. Berikut ini artikelnya:

Apa yang salah dengan bahasa Indonesia? Mengapa segenap orang yang mengaku berbangsa dan bernegara Indonesia tidak pernah bangga terhadap bahasa bangsa yang telah disepakati bersama sejak 28 Oktober 1928 itu?

Terus terang saja, masalah pemakaian bahasa Indonesia yang tidak pernah baik dan benar (sehingga pemerintah perlu menggembar-gemborkan anjuran untuk berbahasa Indonesia yang baik dan benar) itu bukan hal baru lagi. Sudah tak terhitung lagi artikel, makalah, berita, seminar, dan karikatur yang dibuat untuk menyentil pemakaian bahasa Indonesia yang centang perenang atau karut marut.

Salah satu gejala paling nyata pemakaian bahasa kita yang tak pernah beres itu adalah lebih sukanya orang-orang Indonesia menggunakan bahasa asing, terutama bahasa Inggris, untuk mengungkapkan idenya. Dari percakapan sehari-hari sampai nama kompleks perumahan, orang Indonesia banyak memakai bahasa Inggris.

Saking parahnya gejala ini, pada masa 1980-1990-an pemerintah otoriter Orde Baru menerapkan keotoriterannya untuk menertibkan pemakaian bahasa. Gubernur Jawa Tengah H Ismail pada tahun 1983 pernah melarang pemberian nama toko dan perusahaan yang ke-inggris-inggris-an di Semarang dan kota-kota lain di Jawa Tengah.

Pada pertengahan tahun 1990, pemerintah pusat mulai gatal terhadap maraknya penamaan kompleks perumahan mewah, toko, supermarket, mal, dan gedung perkantoran dengan bahasa Inggris. Pemerintah kemudian menganjurkan untuk mengganti nama-nama itu menjadi nama Indonesia, atau paling tidak, dalam ejaan Indonesia.

Anjuran pemerintah pada waktu itu sama artinya dengan perintah yang tidak bisa ditawar lagi. Maka, masa itu ditandai dengan berubahnya nama kompleks perumahan Green Garden menjadi Gren Gaden, Citra Grand menjadi Citra Gren, toko swalayan Indomart menjadi Indomaret (pakai ”e”), dan Citraland Mall menjadi Mal Ciputra, yang semuanya berbau-bau ”maksa”. Di Semarang, saking maksanya, sebuah penginapan bernama Hotel Queen harus ganti nama jadi Hotel Quirin.

Namun, cara-cara represi semacam itu selalu tidak pernah menyelesaikan masalah secara tuntas. Buktinya, begitu pemerintah Orba tumbang pada tahun 1998, ”hobi” orang Indonesia untuk ber-Inggris ria kembali kambuh, bahkan bertambah parah.

Sekarang ini, hampir setiap pusat perbelanjaan, apartemen, kompleks perumahan, kafe, restoran, pusat perkantoran, hingga toko buku yang baru buka, semuanya berlomba-lomba memakai bahasa Inggris.

Di antara yang paling terkenal di Jakarta ini, kita pasti tahu nama Cilandak Town Square yang suka disingkat Citos, Dharmawangsa City Square, The Pakubuwono Residence, Setiabudi One, QB World Books, dan yang terbaru ada Cibubur Junction.

Bahkan, salah satu pusat pertokoan baru di pusat kota Jakarta yang namanya mengikuti kaidah ”diterangkan-menerangkan” (DM) yang digunakan bahasa Indonesia, yakni Plaza Semanggi, masih sempat-sempatnya ditambahi kata ”the” di depannya, jadi lengkapnya The Plaza Semanggi.

Belakangan, ”virus” bahasa Inggris itu turut menjangkiti para penulis buku dan pembuat film. Buku populer yang umumnya berisi cerita fiksi remaja banyak yang judulnya memakai bahasa Inggris. Padahal dikarang oleh penulis asli Indonesia dan seluruh isinya ditulis dalam bahasa Indonesia.

Beberapa judul buku ini antara lain Jakarta Undercover karangan Moammar Emka yang laris bak pisang goreng. Ada juga Me Vs High Heels karya Maria Ardelia dan Eiffel, I’m In Love karangan Rachmania Arunita yang dua-duanya sudah dibuat film layar lebar berjudul sama.

Judul film Indonesia juga bertaburan kata bahasa Inggris, sebut saja Virgin, Seventeen, The Soul, Cinta Silver, dan masih banyak lagi. Acara televisi pun tak mau kalah. Di TransTV setiap Minggu siang ditayangkan Streetball, yang menampilkan modifikasi olahraga bola basket. Acara itu dibawakan sebagian besar dalam bahasa Inggris oleh pembawa acara maupun komentator pertandingannya.

Sementara MetroTV sudah lebih dulu memberi nama acaranya dengan bahasa Inggris, seperti Headline News, Breaking News, Famous to Famous, dan Market Review. Di sebuah stasiun TV lokal JakTV, ada acara yang judulnya My City, My TV.

Jauh lebih parah lagi, pejabat pemerintah, yang dulu getol memerangi gejala ke-inggris-inggris-an, sekarang justru menjadi tokoh utama pemakaian bahasa Indonesia campur Inggris itu. Sampai belakangan ini pun, ada seorang pejabat tinggi negara yang setiap kali dikritik suka sekali menjawab dengan kalimat pendek, ”I don’t care!”.

Alasan dagang

Sebagian besar pemakai bahasa Inggris itu mengaku alasannya untuk memenuhi tuntutan pasar.

Chand Parwez Servia, Presiden Direktur PT Kharisma Starvision Plus, menjadi produser beberapa film dengan judul bahasa Inggris, seperti The Soul, Seventeen, Virgin, sampai Me Vs High Heels. Alasan membuat judul dalam bahasa Inggris diakui untuk mempermudah pemasaran di tingkat internasional.

Demi mempersiapkan diri menghadapi pasar internasional, Chand Parwez pun membuat judul dalam bahasa Inggris. ”Misalnya film saya yang berjudul Kafir. Orang di luar negeri enggak ngerti apa itu kafir, kalau Satanic, mereka baru mengerti,” kata Chand.

Bahasa Inggris sebagai judul juga dianggap memberikan nilai eksklusif bagi para penonton kelas menengah atas yang telah mengeluarkan uang untuk menonton. Ia mencontohkan, dua filmnya terbaru akan diberi judul Missing dan Get Married. ”Kalau orang nanya, eh, mau nonton apa? Terus jawabnya Kawin Yuk! kan enggak keren. Beda kalau Get Married, kan ada sesuatu yang membuat mereka merasa worth it mengeluarkan uang,” kata Chand.

Berbeda dengan Chand, Raam Soraya, Direktur Soraya Intercine Film yang memproduksi Eiffel, I’m In Love, mengatakan, judul bahasa Inggris tersebut memang diambil dari novel dengan judul sama. ”Kalau judul filmnya beda, ntar enggak dikenal dong,” kata Raam.

Ia mengatakan, film-film Soraya Intercine selalu berusaha menggunakan bahasa Indonesia. Karena, menurut dia, tidak ada alasan untuk komersial atau pangsa pasar anak muda lebih menyukai atau lebih akrab dengan bahasa Inggris.

Sementara itu, Kepala Departemen News Magazine MetroTV Retno Shanti mengatakan, salah satu alasan pemakaian bahasa Inggris adalah idealisme MetroTV untuk turut mencerdaskan masyarakat Indonesia. ”Selain itu, kami berkeinginan suatu saat MetroTV tidak hanya siaran di Indonesia saja, tetapi juga di luar negeri. Bahkan, beberapa acara produksi kami sudah dibeli TV luar negeri,” ujar Shanti sambil menyebut beberapa nama acara, yakni Expedition, Oasis, Archipelago, dan Periscope, yang dibeli sebuah stasiun TV di Belanda.

Manajer Humas Lippo Karawaci Jeanny Wullur juga mengaku sulit untuk mengubah sebuah kompleks restoran dan kafe Benton Junction menjadi Persimpangan Benton atau Perempatan Benton. Salah satu alasannya karena nama Benton sendiri memang nama asing.

”Nama itu kami buat sebagai dedikasi untuk Roger Benton, Senior Advisor Lippo Karawaci yang merancang tata kota Lippo Karawaci. Lagian, ini zaman global, repot juga kalau kita tetep keukeuh menggunakan bahasa Indonesia 100 persen,” ujarnya menjelaskan.

Sementara itu, menurut Direktur Toko Buku Quality Buyers World (biasa disingkat QB World) Indonesia Richard Oh, penggunaan kata-kata bahasa Inggris untuk menamai tokonya bukanlah sekadar keren-kerenan atau pamer kata-kata asing.

”Namanya juga merek dagang, tak bisa disamakan dengan penggunaan bahasa asing dalam percakapan sehari-hari. Kami biasa menyingkat Quality Buyers World menjadi QB karena enak didengar dan mudah diucapkan,” papar Richard menjelaskan.

Penulis beberapa buku berjudul bahasa Inggris, seperti Jakarta Undercover, Sex ’n The City, dan Red Diary, Moammar Emka mengakui, judul bahasa Inggris lebih ”simple tetapi dapet” dibandingkan dengan judul bahasa Indonesia. Sejak awal, pemilihan bahasa Inggris dalam beberapa judul bukunya memang dilakukan untuk memancing keakraban di telinga pembaca.

Gejala ini tidak hanya terjadi di Jakarta saja, tetapi juga di daerah. Wiwien Wintarto, pengarang novel remaja asal Semarang, mengaku memakai bahasa Inggris lebih simple dan tepat untuk menyampaikan isi buku. Itulah sebabnya pada novel terakhirnya yang diterbitkan akhir Agustus lalu, ia memberi judul The Rain Within.

Apabila yang dikatakan orang- orang ini benar, berarti memang ada sesuatu yang kurang dari bahasa Indonesia menyangkut kesederhanaan dan ketepatannya dalam menyampaikan suatu gagasan.

Ataukah kita akan meniru mentah-mentah negara tetangga kita yang memiliki bahasa Singlish dengan menemukan bahasa baru: Indonenglish?

OLEH DAHONO FITRIANTO

11
Jul

Tgl. 07-07-07 = Hari Hokie ? !

Meski tanggal 7 telah lewat, tapi tulisan ini cukup menarik untuk disimak. Saya hanya mengambilnya dari situs resminya. Berikut isinya:

Hari ini adalah tanggal keramat bagi para penggemar numorologi atau mereka yang percaya akan angka cantik atau angka hokie, sebab bertepatan dengan tanggal 07-07-07. Bagi orang Yahudi; hari Sabtu adalah hari ketujuh = Sabath. Maka tidaklah heran banyak orang yang memilih hari ini sebagai tanggal hari perkawinannya. Terutama di negara-negara Asia banyak sekali ibu yang khusus minta di operasi caesar agar anaknya dapat dilahirkan bertepatan pada hari hokie ini.

Angka tujuh bisa disebut sebagai angka hokie, sebab ini melambangkan tujuh lobang masuk yang dimiliki oleh manusia; 2 lubang hidung + 2 lubang kuping + 2 lubang hidung + mulut.

Angka 7 juga melambangkan angka kemenangan. Dalam judi angka triple-seven merupakan angka hokie begitu juga bagi para pemain mesin jackpot. Di Jepang angka 7 adalah angka hokie sedangkan angka 9 adalah angka sial, sebab lafal kata untuk angka 9 dalam bhs Jepang ku = menderita.

Aneh bin nyata; berdasarkan penelitian apabila orang disuru memilih angka antara 1 s/d 9 kebanyakan orang memilih angka 7. Angka tujuh ini dapat dibilang sebagai angka sempurna, sebab melambangkan kesatuan dari perempuan (segi empat) dan pria (segi tiga).

Bagi umat Kristen angka 7 adalah angka sempurna, dunia diciptakan dalam 7 hari, sedangkan angka 6 adalah angka yang tidak sempurna atau angka setan. 666 melambangkan angka dari Iblis, Nabi Palsu dan Anti Christ sedangkan angka 777 melambangkan Allah Tritunggal. Nabi Yusuf menafsirkan mimpi Firaun mengenai angka tujuh.

Kata CHRIST dalam urutan angka abjad kalau dijumlahkan menjadi 77. Sedangkan kita harus memaafkan orang 7 x 70 kali. Satu Minggu = 7 hari. Berdasarkan Injil Lukas dalam silsilah Yesus adalah generasi yang ke 77. Di Kitab Wahyu banyak sekali lambang angka 7 digunakan, maka dari itu juga ada aliran Kristen Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh.

Bagi umat Islam, angka 7 juga berarti angka baik sebab surga itu ada di tingkat ke 7 dan ada 7 ayat dalam Surat al-Fatiha. Sedangkan Buddha berjalan tujuh langkah setelah ia dilahirkan. Dalam agama Hindu ada 7 Chakra (sahasrara).

Ti ngkat kemurnian atau kebersihan air akan tercapai, apabila sudah mencapai level pH-7. Ada tujuh warna pelangi. Dongeng Putri Salju dan 7 kurcaci, Sinbad melayari 7 samudra. Film The seven Samurai. Berdasarkan novel dari Harry Potter angka 7 adalah angka yang paling sakti. Buku yang menggunakan angka 7; The Seven Years of Tibet. The Seven pillars of wisdoms. Tujuh keajaiban dunia dan 7 samudera. James Bond = 007, minuman 7-Up, toko 7-Eleven. Merek rokok Number 7 adalah rokok yang paling laris di Canada.

Banyak orang kegilaan akan angka cantik sehingga mereka bersedia membayar dengan harga tinggi untuk mendapatkan angka cantik tersebut. Misalnya telpon angka cantik termahal yang di dunia adalah no telpon 7 x 6 atau 666-666 di Doha – Qatar yang telah laku terjual seharga AS$ 2,7 juta. Sedangkan angka 7 x 8 atau 888-888 terjual di Chengdu – Tiongkok senilai AS$ 270.723. Bagi orang Tionghoa angka 8 adalah angka hokie.

Walaupun demikian menurut pakar komputer Steve Wozniak angka telpon 888-8888 itu tidak baik, akan selalu sibuk, masalahnya apabila anak kecil mulai main telpon maka ia akan memilih akan selalu memilih nomor 8888888.

Konon Jacky Chan tidak segan2 mengeluarkan uang satu juta AS$ hanya untuk mendapatkan nomor plat mobil 8888 sedangkan perusahaan Sichuan Airlines telah membayar 25 milyar Rp khusus untuk membeli no: 88888888 (8×8) sebab angka 8 (fa = dialek Kanton) berarti hokinya datang. Dan khusus untuk mendapatkan nomor cantik 135 8585 8585 yg berarti: Biarlah saya menjadi kaya, menjadi kaya, menjadi kaya telah dibeli dgn harga Euro 900.000 (95 milyar Rp) laporan dari Shanghai Daily.

Bagi mereka yang sudah kelewatan tanggal 07-07-07 masih ada tanggal cantik lainnya ialah 20-07-2007.

Sedangkan untuk tahun depan yang sudah pasti di Tiongkok akan menjadi hari atau tanggal sakti yang digandrungi oleh jutaan orang adalah tgl 08-08-08. Maka dari itu buruan pesan hotel untuk hari nikah pada tgl tersebut atau usahakan agar sang istri sudah bisa hamil pada bulan Desember yang akan datang ini.

Maranatha
Mang Ucup - The Drunken Priest
Homepage: www.mangucup.net

12
Jun

Kesembuhan dan Mukjizat

Pada beberapa waktu lalu saya melihat ada selebaran tentang adanya penyembuhan (healing). Berisi ajakan untuk datang dan mengajak kerabat atau sahabat yang sakit untuk disembuhkan secara ajaib/dgn mukjizat. Setelah kulihat lebih lanjut, ternyata ini diselenggarakan oleh sebuah gereja. Jadi itu mestinya adalah kebaktian. Yang saya pertanyakan ialah kalo memang kebaktian, kenapa tidak ditulis kebaktian saja besar2, kok malah ditulis menjanjikan kesembuhan. Kalo tulisan utamanya adalah kesembuhan, berarti kebaktiannya sendiri nomor dua dong. Seakan hal rohaninya dikesampingkan, lebih dipentingkan kesembuhan fisik. Saya jadi ingat beberapa waktu sebelumnya aku melihat ada iklan di MRT ttg seorang yg mengaku diri sebagai ‘prophet’ alias nabi yang menjanjikan kesembuhan bagi org sakit yg datang.

Saya jadi ingat cerita dari Anthony de Mello ttg mukjizat. Berikut ceritanya:

BAHARUDIN MENYEMBUNYIKAN MUKJIZAT-MUKJIZATNYA

Pada  suatu ketika orang menemui murid seorang Muslim mistik
Baharudin Naqshband dan berkata, "Jelaskan,  mengapa  gurumu
menyembunyikan     mukjizat-mukjizatnya.     Aku     sendiri
mengumpulkan peristiwa-peristiwa, yang membuktikan tak dapat
disangsikan lagi, bahwa ia hadir pada lebih dari satu tempat
pada waktu yang sama, bahwa  ia  menyembuhkan  orang  dengan
kekuatan  doanya, tetapi ia berkata, bahwa itu karya kodrat,
bahwa ia membantu orang dalam  kesusahannya  dan  mengatakan
itu sebagai keuntungan mereka. Mengapa ia berbuat demikian?"

"Aku tahu betul apa yang kamu maksud" kata murid, "Sebab aku
sendiri  mengamati  hal-hal  itu.  Dan  kukira,  aku   dapat
menjawab pertanyaanmu itu. Pertama, Guru itu menolak menjadi
pusat perhatian orang banyak. Dan kedua, ia yakin bahwa jika
orang  sudah  menaruh  perhatian pada mukjizat, mereka tidak
berminat lagi belajar sesuatu yang bernilai rohani."

                   (DOA  SANG  KATAK 1, Anthony de Mello SJ)

Setelah saya mencari di sana-sini, ternyatalah nabi2 pun tak semuanya melakukan mukjizat. Contohnya seperti Yohanes pembaptis (Yoh 10:41). Tuhan Yesus sendiri tidak membangga-banggakan mukjizat yang dibuatnya, bahkan ketika org dtg berbondong-bondong minta disembuhkan, Ia mengundurkan diri (Luk 5:16). Juga tidak semua org yg datang Dia sembuhkan, ketika Dia di kolam Betesda, di mana ada byk org sakit, Dia hanya menyembuhkan satu org saja. Selain itu Yesus tidak minta pada org yg disembuhkan untuk menjadi percaya kepadaNya, bahkan dari 10 org yg sakit kusta, hanya 1 org yg kembali dan sisanya pergi ngeloyor begitu saja! Yang penting adalah kita harus bisa membedakan antara nabi palsu dan bukan, mengingat di Alkitab dengan diperingatkan bahwa di akhir jaman akan banyak nabi palsu yg muncul.

11
Jun

Cuap-cuap tentang bahasa

Bahasa Indonesia dikenal mempunyai banyak kata serapan, mengingat bhs Indonesia yg berakar dr bahasa Melayu, dulunya adalah bahasa perdagangan, bahasa percakapan antar orang2 dari berbagai macam daerah.

Ada banyak kata yg sudah jamak dipakai dlm bahasa sehari-hari adalah hasil serapan bhs asing, seperti: bahagia, bahasa, angka, benda, beda, jelita (Sansekerta); kursi, awal, maaf, maksud (Arab); buncis, mantel, dasi, handuk, karcis, tas (Belanda); duit, pasar, bakso, loteng (Cina); lemari, terigu, keju, meja, kereta (Portugis); pahlawan, piyama (Persia); kado, supir (Prancis). Bahkan katanya kata "justru" berasal dr bhs Inggris "just true"! Arti dr kata2 serapan tsb bisa saja telah melenceng dari arti di bahasanya semula.

Saya merasa pada saat ini makin lama kata serapan semakin banyak, terutama yg berasal dari bahasa Inggris. Lihat saja, byk org lebih suka mengatakan ’situasi’ daripada ‘keadaan’, ‘infrastruktur’ drpd ‘prasarana’, ‘konflik’ daripada ‘pertentangan’, ‘imajinasi’ drpd ‘daya khayal’, ‘kreativitas‘ drpd ‘daya cipta’, ‘informasi’ drpd ‘keterangan’. Seakan-akan bila menggunakan kata2 yang terbaratisasi, adalah lebih keren dan akan terlihat lebih intelek. Padahal lebih mudah dan pendek memakai kata ‘ciri‘ daripada ‘karakteristik’. Kata2 seperti "berdiskusi" dan "distop", saya kira akan membuat org Australia, yg mana mereka juga belajar bahasa Indonesia di sekolah, menjadi merasa geli. Sebenarnya ada padanan kata dalam Indonesianya yaitu "berunding" dan "dihentikan".

Yang cukup menarik adalah terkadang ada suatu perulangan kata, spt contoh berikut yg diambil dr berita, "Dari segi kualitas, saya melihat ada kecenderungan bahwa mutu wasit sekarang sudah mulai memperlihatkan peningkatan." dan ada lagi, "untuk mewujudkan dan mengaktualisasikan…"

Di negeri Singa ini saya melihat ada tendensi kecenderungan orang2 Indonesia di sini sering menyisipkan kata2 bahasa Inggris dalam percakapannya sehari2. Contohnya spt meeting, cukup jarang org yg menggunakan kata ‘rapat’ drpd ‘meeting’. Kata ‘penelitian’ juga hampir tak pernah dipakai, byk yg lebih suka "research". Ini mengingatkanku pada mamaku yg biasanya menggunakan kata 开会(kai hui) alih2 rapat dan 研究 (yan jiu) alih2 penelitian.

Ada lagi yg lain spt by the way, meanwhile, tar paw, kay poh, dst. Memang sih tak bergitu bermasalah selama tak menimbulkan salah pengertian saja, tapi saya melihat bila diteruskan, lama2 ada kecenderungan bahasa Indonesia menjadi bahasa kreol, jadi bahasa campur, seperti singlish. Saya kira memang bagi org yg bilingual (dwibahasa) pencampuran antar kata dr bahasa berbeda ckp sering, terutama apabila bercakap2 dgn org yg sama2 bisa dwibahasa.

Cukup seringnya terpengaruh oleh kata2 seperti itu bisa2 membuat generasi baru tak begitu mengenal padanan kata yg tidak berasal dr Barat. Dulu saya kira kata kalem itu dr bahasa Indonesia asli, sebelum saya tahu ternyata dari bahasa asing. Begitu pula dgn telat dan babu, berasal dari te laat dan baboe (Belanda). Ada byk pula kata2 bahasa Inggris, yg mana saya agak kesulitan mencari padanan kata dlm  bahasa Indonesianya, contohnya spt kata bilingual tadi. Meskipun sebenarnya kata dwibahasa sendiri berasal dr bahasa Sansekerta.

Ketika saya membaca kitab suci, saya sering menjumpai kata2 yg tak kupahami, terutama yg dari perjanjian lama contohnya spt: nafiri, sotoh, menyesah, terbantun(Luk 17:6), jejamang(2 Sam 1:10), salang umban(1 Sam 25 :29), lungsin (Hak16:13), semburit bakti (Ul 23:17), bondongan (Bil 23:10), dan masih banyak lagi lainnya. Padahal Terjemahan Baru itu baru sekitar 30-an tahun yg lalu. Ada kata2 yg artinya berbeda, spt kata budak kecil (1 Sam 20:35) yg setelah saya melihat terjemahan basic english, diterjemahkan menjadi little boy. Rupanya budak=anak, mirip bahasa Melayu. Saya pikir adanya kata2 yg tak kupahami itu menandakan adanya pergeseran makna di dalam penggunaan kata atau kata2 tersebut telah tergantikan dgn kata2 lain, baik itu serapan dr luar atau tidak .

Berikut saya mendapatkan kalimat bergaya jaman ketika masih di bawah pemerintahan kolonial.
„Toe kijk maar. Masah ik pake pakean kaja gini. Ajoh naar huis sebentar. Ik maoe toeker pakean. Ik verlegen neh met pakean kaja gini. Ik maoe dansen loh”

Saja terperandjat dan boeroe² rogoh sakoe saja, kerna zonder di sengadja, Ouweheer poenja omongan peringetken, jang rekening „kaartjis-nama” (*kartoe-nama) saja, jang ditjitak di itoe drukkerij zaman kongsi-koen (*masa kedjajaan), belon dibajar.

Mari, bong-tjee (*masoek)! Doedoek doeloe nip! Begitoelah Ouweheer tawarin saja boeat masoek dalem satoe roewangan ketjil. Tapi se-ketjil-ketjil’nja ini kamar, toch besar sekali artinja. Kerna di-dalem’nja Ouweheer installeer ia poenja drukkerij dan zetterij, magazijn boeat simpen kertas dan tinta, proefdrukkamer, order enz, enz. (*pesedian bahan mentahnja banjak sekali)

Rupanya proses pencampuran dgn bahasa asing sudah ada sejak jaman baheula. Cuma sekarang arus pencampuran dari bahasa Inggris jadi makin deras mengalir. Membuat bahasa Indonesia semakin terkreolisasi.

10
Jun

Tentang Hidup

Dalam hidup ini, ada sedih ada senang, ada suka ada duka, ada damai ada seteru, ada hal2 yang kita idam-idamkan namun tak terwujud, ada pula kejadian yg mengejutkan, yang sama sekali tak kita harapkan tiba2 saja menimpa, baik itu kejadian baik maupun buruk. Sampai ada yang mengatakan bahwa satu-satunya yang dapat kau harapkan untuk datang adalah yang tak diharapkan. Menurutku itu ungkapan yang berlebihan. Tidak semua hal yang ada tak bisa diramalkan, masih banyak kejadian2 yang bisa kita prakirakan sebelumnya.

Tapi memang, dapat disadari atau tidak, jalan mana kita akan melangkah kelak, apa yang kita dapatkan atau kemampuan kita selama hidup di dunia, semua sdh ada yang mengatur. Tidak semua orang mendapat hal yang sama. Semua diberikan sesuai dengan kebutuhan kita.

Berikut adalah sebuah kisah yang cukup menarik karya Anthony de Mello:

PERUMPAMAAN HIDUP

Sepulang dari perjalanan, Sang Guru menceritakan salah satu pengalamannya yang menurutnya merupakan perumpamaan mengenai hidup.

Pada waktu istirahat pendek, ia berjalan ke warung makan yang kelihatan apik. Ada sup lezat, gulai panas, dan semua jenis hidangan yang serba menggoda selera.

Ia memesan sup.

"Anda penumpang bus?" tanya sang pelayan dengan nada keibuan. Sang Guru mengangguk.

"Tidak ada sup."

"Kalau gulai nasi panas?" tanya Sang Guru dengan rasa heran.

"Juga tidak, karena Anda penumpang bus! Anda sebaiknya membeli roti saja. Seluruh pagi saya habiskan guna mempersiapkannya, dan Anda bisa menyantapnya dalam waktu tidak lebih dari 10 menit. Saya tidak akan mempersiapkan makanan yang tidak dapat Anda nikmati dengan waktu yang Anda miliki."

                                                                (Berbasa-basi Sejenak, Anthony de Mello)

02
Jun

Si Ceria & Si Murung

Saya mendapat cerita ini dari suatu situs. Cerita ini mengingatkanku akan dua macam orang: orang yg bagaimanapun sulitnya pasti ada jalan keluar dan orang yg bagaimanapun ada jalan keluar pasti ada kesulitan.

Seperti namanya Ceria mempunyai sifat periang, selalu gembira, dan selalu tersenyum. Sebaliknya Murung mempunyai perangai yang cemberut, selalu sedih, dan jarang tersenyum. Suatu ketika orang tua mereka berpikiran untuk membuat Si Murung tersenyum gembira dan membuat Si Ceria menjadi cemberut dan sedih. Nah orang tua mereka mulai memikiran apa yang menjadi kesenangan mereka !!! Si Cemberut yang menginjak masa ABG sedang terkena demam HP, jika pergi dengan teman-temannya sering kali ia meminjam HP milik temannya untuk menelpon. Kemudian orang tuanya membelikan dia HP supaya dia menjadi senang dan gembira.

Sewaktu cemberut pergi sekolah HP itu dibungkus oleh orang tuanya dengan kertas kado yang bagus dan diletakkan di kamarnya. Sewaktu Cemberut pulang ia segera masuk ke kamarnya, dan ia melihat ada kado di kasurnya. Dengan sigap ia cepat-cepat membuka kado itu dan ia terkejut sekali ketika di dalamnya berisi HP. Wajahnya tersenyum, tapi tidak lama. Kemudian ia murung lagi karena ia berpikiran kalau-kalau HP ini ia bawa pasti teman-temannya akan banyak yang pinjam, terus kalo rusak biayanya pasti mahal. Di ben aknya selalu muncul pikiran yang negatif, sehingga kado HP itu menjadi beban baginya. Dan yang keluar dari mulutnya adalah omelan-omelan dan umpatan, bukannya terima kasih kepada orang tuanya.

Si Ceria yang senang dengan kuda, diberi oleh orang tuanya telepong kuda (kotoran kuda) dengan harapan ia menjadi cemberut dan sedih.

Telepong (kotoran kuda) yang dibungkus dengan menarik itu juga diletakkan di kamarnya. Sewaktu Ceria pulang ia juga terkejut ada kado di kamarnya. Dengan sigap ia membuka pula kado itu. Ketika dibuka bau busuk keluar dari kado itu, dan alangkah terkejutnya bahwa kado itu berisi kotoran kuda. Mukanya menjadi kebingungan sebentar. Dia berpikir, "Masa sih orang tuaku yang begitu mencintai aku memberi aku kotoran kuda, wah pasti ada sesuatu di balik hadiah ini!!!"

Setelah berpikir sebentar kemudian ia lari kepada orang tuanya dan mencium mereka. Orang tuanya sangat bingung dan terkejut kemudian bertanya, "Lho kamu itu diberi kotoran kuda kok senang sih ?".Lalu Ceria menjawab, "Papa, Mama, saya tahu kalian sangat mencintai saya, jadi tidak mungkin memberi kotoran kuda kepada saya, pasti kotoran kuda itu adalah sebuah tanda. Kalau ada kotoran kuda, berarti ada kudanya. Saya tahu bahwa kalian akan membelikan kuda pony buat saya, dan sekarang mana kudanya ???". Kemudian orang tuanya berkata, "Lho kami hanya memberi itu kepada kamu". Ceria menyahut, "Tidak mungkin saya yakin pasti ada kudanya." Akhirnya orang tuanya mengalah, dan membelikan dia kuda pony.

Orang yang hidupnya merasa sangat dicintai Tuhan akan selalu berpikir bahwa Tuhan akan memberikan yang terbaik dalam hidupnya, walaupun dia sedang dalam penderitaan. Sehingga orang yang hidup dalam cinta kasih Tuhan akan selalu gembira dan ceria di dalam hidupnya. Sebaliknya orang yang tidak merasa dikasihi oleh Tuhan, akan merasa bahwa hidup ini menjadi beban penderitaan yang sangat panjang. Sehingga di dalam hidupnya akan gelisah, takut dan khawatir.

01
Jun

Sebuah Kisah Tentang Nama

What is a name? Apakah arti sebuah nama? Begitu kata Shakespeare. Nama di sini bukanlah berarti suku Nama, sebuah suku di Afrika bagian Selatan, nama adalah sebutan panggilan yang unik di setiap umat manusia untuk membedakan dirinya dgn orang lain. Nama menunjukkan jati diri seseorang, dari mana ia berasal, apa latar belakangnya, apa status sosialnya, dsb.

Segera setelah seorang anak lahir di dunia, orang tuanya mencarikan nama untuk anaknya. Biasanya dipilih nama yang bagus2, nama yang memiliki arti yang mengesankan, meski ada juga yang hanya mengikuti tradisi dgn hanya memilih nama yg umum dipakai di daerahnya, atau malah dinamakan sama persis dgn nama ayahnya, seperti presiden Amerika Serikat skrg ini.

Waktu aku masih kecil, beberapa nama yang umum dipakai adalah seperti: Natalia, Andi, Monika, Andre, dsb. Nama2 yg terdengar seperti nama orang Barat. Ada juga nama2 yang terdengar seperti nama org Indonesia spt: Agung, Dimas, Agus, Hendrawan, serta nama saya sendiri. Tahu sendirilah siapa nama saya. Nama yang khas Indonesia. Beberapa waktu lalu, ketika akan ada suatu kegiatan, dan semua yg ikut ditanyain mau makanan apa, atau kalau2 ada pantangan apa. Saya ya pilih saja salah satu pilihan yang dia sediakan. Lalu pihak sana kirim email balik, menanyakan, "Are you moslem? Do you need halal food?" Sontak saya menjawab, "No, I’m not. I can eat any food." Rupanya nama saya terdengar seperti nama muslim yah. Tak heran, Singapore Idol yg lalu saja namanya Hady Mirza.

Waktu SMP ada temanku yg memakai nama muslim spt: Choirul Anam, Muhaimin, Masruchin, bahkan ada yg bernama Isa! Ketika SMA saya melihat teman2 saya banyak yang mempunyai nama2 Barat, jrg yang namanya masih memakai nama Tionghoa. Ada satu hal yang cukup menarik adalah bahwa nama Barat yang dipakai kebanyakan adalah nama2 Inggris, seperti: Stephanie atau variannya Stefani, Stefanie, lalu Jimmy, Melissa, Adrian, Aileen, Alan, Alex, Annice, Anthony, Ronald, Christine, dan lain sebagainya yg kalo diteruskan bisa nggak habis2. Ada pula nama Inggris yang aku tak pernah dengar ada org Indo yang memakainya spt: George, Ashlee, Archibald, Cameron, Kyle, Chuck, Montgomery, Murphy, Oswald, dll. Saya melihat tak banyak yang memakai nama selain Inggris, memang ada beberapa contohnya seperti: Imelda, Fernando, Alfredo, Anton, Ferdinand, Elvira, Ines, Hanna, dsb.

Banyak pula yang suka memakai nama Kristen, tak peduli dia beragama Kristen atau bukan. Ada yg bernama Christin tapi bukan Kristen. Yang lain ada yg memakai nama2 di Alkitab, atau nama Santo/Santa atau nama bapak2 gereja. Nama di Alkitab spt: Abednego, Petrus, Yakub, Yusuf, Yosua, Yohanes, Maria, Tirza, Hezron, Yosafat, serta nama2 Inggrisnya spt: Michael, Matthew, John, Peter, James, atau nama non Inggris, spt Yahya (Yohanes). Nama Santo/Santa spt: Valentina, Agustinus, Xaverius. Atau tokoh gereja seperti Polikarpus.

Pernah suatu kali ketika berkenalan dgn orang Vietnam, dan seusai saya menyebutkan nama saya, dia bertanya, "What is your western name?" Saya jadi bingung, nama saya cuma itu kok, kecuali kalau dia tanya siapa nama Tionghoanya, itu baru ada. Rupanya karena banyaknya orang Indonesia yang memakai nama Barat, sehingga dikira org Indo yg tidak bernama Barat mesti punya juga nama Baratnya.

Yang saya pertanyakan ialah mengapa banyak yang suka memakai nama Inggris, padahal orang Barat tidak hanya Inggris, banyak juga negara2 lain dgn budaya yg berbeda2. Kalau kita lihat, org Filipina dan Timor Timur banyak yg pakai nama bukan Inggris, spt: Domingos, Amando, Filipe, Ramos, dll. Sebenarnya banyak lho, nama non-Inggris yang belum dipakai seperti Boris, Vladimir, Jaroslav, Gustav, Ulrike, Schmidt, Konrad, Petersohn, Wolfgang, Giuliano, Annetta, Manuela, dlsb.

Saya melihat orang Jawa yang memakai nama Jawa sendiri juga makin menurun. Nama2 orang desa dulu ada yg diberi nama hari spt: Rebo, Kliwon, Wage (spt nama komponis kita). Ada jg yg namanya Dhingklik (kursi kecil), Gudel (sebutan utk anak kerbau). Sedangkan nama2 spt Poniman, Wakidi, Katemo, Katirin, Mukinem, Pariyem, sdh tidak umum lagi, terutama di kota. Sudah jarang sekali anak kecil yang namanya spt itu. Kebanyakan memakai nama yg dianggap lebih bagus spt: Rahayu, Ika, Retno, Sinta, Bambang, nama2 yg diawali sgn Su- spt Suharto, Sukarno, Susilo atau memakai nama2 Barat spt Randy, Ivan atau nama Arab spt Hambali, Shihab, Assegaf.

Saya baru saja tahu, kalau Wati itu dlm bahasa Arab artinya persetubuhan, tp sepertinya di Indo itu menjadi identik dgn wanita, contohnya antariksawati. Entah berasal dari bahasa mana itu. Pembaca ada yg tahu?

Saya melihat kecenderungan orang memakai nama Barat adalah makin besar, bahkan bekas pembantu saya dulu memberi nama anaknya dgn nama Henry. Bahkan ada yg namanya disamakan persis dgn nama penemu spt: Enrico Fermi, Thomas Alva Edison, bahkan Albert Einstein! Saya merasa kok nggak kreatif sih, dikopi persis namanya.

Saya jadi melihat bahwa orang Indonesia suka tiru2 nama asing, sesuatu yang tidak kulihat di bangsa2 lain seperti Jepang, Korea, Thailand, India, dll. Kalau memang bangsa Indonesia, kenapa pula mesti malu memakai nama asli Indonesia? Memang untuk kasus2 orang Tionghoa ada yg tak begitu suka mengadopsi nama penduduk lokal sebagai ganti nama Tionghoanya, maka mereka lebih memilih nama Barat. Dulu waktu SMP, ada teman2ku yang namanya unik2, spt: Maharani, Sulung, Bangkit, Buang, Gelar Luhur, Isish (entah nama bikinan sendiri ato ada hub dgn dewa Mesir saya tak tahu, yg jelas isis dlm bhs Jawa artinya sejuk).

Sebenarnya bisa lho menciptakan nama2 unik, mengingat di Indonesia adalah cukup bebas dalam memberi nama, tdk spt di bbrp kebudayaan lain yang mana nama anak pertama mesti sama dgn nama ayahnya, atau dengar2 di Singapur nama anak yg didaftarkan tidak boleh memakai nama2 tertentu. Contoh2nya spt Kristia Monetera, Satu Cahaya Langit, atau spt anak dr Melly Goeslaw yg dinamai "Anakku Lelaki" dan adiknya diberi nama "Pria Bernama". Lalu dengar2, anak dari Sitok Srengenge (artinya satu matahari) dinamakan "Laire Siwi Mentari" (lahirnya anak matahari). Ada juga joke2 ttg org yg bernama Saklitinov, dan Saklitinov itu ternyata singkatan dari Sabtu Kliwon Tiga November. Olala…

31
May

Gampangnya jadi pendeta

Di jaman yang canggih sekarang ini, banyak hal bisa didapat dengan instan, mulai dari mi instan, kopi instan, jadi pejabat instan, titel instan, kebahagiaan instan, serta org yang mengaku2 bisa mendatangkan kekayaan dgn instan, spt MLM. Tapi rupanya tak hanya hal2 duniawi yang bisa didapat dgn instan, orang juga ingin meraih kerohanian dgn instan, ingin bisa masuk surga dgn instan. Spt kata pepatah, "Muda foya-foya, tua kaya-raya, mati masuk surga" Tulisan ini tdk membicarakan hal itu tapi akan menceritakan bahwa ternyata di jaman serba praktis saat ini, menjadi pendeta pun bisa didapat dgn mudahnya. Bahkan titelnya bisa lebih keren karena dari luar negeri!

Supaya bisa menjadi pendeta resmi
yang sudah ditahbiskan (ordained minister) bisa didapat melalui internet. Gampang, cepat dan GRATIS lagi! Sudah tidak perlu lagi belajar capek2 selama bertahun2 yang mana belum tentu bisa segera ditahbiskan. Alamatnya bisa dilihat di  http://themonastery.org lalu klik Become an Ordained Minister. Sudah, segampang itu! Dan bahkan sebenarnya tidak hanya situs itu saja yg menyediakan pelayanan semacam itu, byk juga yg lain, spt di http://www.universalministries.com/beordained.html

Kalau ingin yang lain, bisa lihat daftarnya di katalog (http://www.themonastery.org/catalog) Macam2 gelar bisa diperoleh dgn tak perlu tatap muka dan harga kurang dari $50! Kalo rajin2 mencari, ada byk lg yg lain spt di https://host228.ipowerweb.com/~ulchqcom/osCommerce/catalog/index.php?cPath=2
Tinggal pilih saja gelar mana yang kita mau. Tak hanya gelar Kristen saja yang bisa didapat, gelar pagan, shaman, druid, islam, metafisika pun bisa diperoleh! Semua dgn harga tak lebih dari $100! Serta tak lupa pula pengampunan dosa instan!

Bagi yang merasa ragu, jangan2 ini adalah bohongan mengingat di jaman sekarang ini org bisa dgn mudahnya memalsukan data2 dan org pandai memutarbalikkan fakta, bisa dilihat artikelnya di wikipedia. Dan mmg organisasi ini sudah punya cabang di banyak tempat. Situsnya mengklaim bahwa over 20 million ministers ordained since 1959. Dan daftar org2 terkenal yg telah menjadi minister bisa dilihat di http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_Ministers_of_the_Universal_Life_Church. Di sana ada anggota2 The Beatles, Sharon Stone, Alanis Morisette, Courtney Love, dll.

Lalu, setelah mendapat gelar, apa yang dilakukan? Tentu saja bisa memberkati pernikahan, mendirikan gereja sendiri, lalu menjalankan "bisnis" gereja. Dengan modal yang cukup kecil, bisa mendapat hasil yang besar bila gereja itu nanti "laku".

Beberapa waktu lalu saya mendengar khotbah yang mengatakan bahwa banyak pendeta2 yg tidak mengerti firman Tuhan sudah berani berkhotbah yang mana bisa menyesatkan jemaatnya. Dan sekarang saya jadi tahu bahwa hal2 semacam itu bukan hanya isapan jempol belaka. Tapi benar2 ada, dan banyak. Di seminari2 pun muncul keluhan bahwa banyak lulusan seminari saat ini yang mutunya kalah bila dibanding dgn jaman dulu.

Saya melihat dgn betapa mudahnya menjadi pendeta, tak heran pernikahan org2 homoseksual bahkan pernikahan antara orang dan hewan bisa terjadi dan disahkan! Bagi yang tak percaya mengenai pernikahan orang dan hewan peliharaan bisa lihat di http://www.marryyourpet.com. Ini bukan lelucon, ini sungguh2 terjadi, dan Anda pun bisa melihat bagaimana cerita kisah cinta mereka di situs itu. Bahkan katanya di Baltimore sudah diperkenankan pernikahan antara manusia dan hewan piaraannya.

NB: Bagi yang tahu, bagaimana sih caranya menampilkan link langsung, daripada hanya kopi paste alamat spt di atas? Buat yang tahu jawab di komen ya!

27
May

The Fine City Singapore

I’ve just watched the video below, then I intend to write this article.

http://www.youtube.com/watch?v=Q2Flfj3mmaU

Actually I’ve tried to display that video in this blog, but it failed, so anyone who know how to display the video, please tell me how. Ok?

Singapore is well known with other name such as Switzerland of Asia or Fine City, due to its large amount of prohibition, such of drug, jay-walking, spitting, littering, and drinking and eating on public transport. You can see the sign in many places in Singapore, which you can see it below:

Fine         
Jaywalking.jpg

                                                        No Jaywalking sign in Orchard road

It is said that first offenders of jaywalking face a fine of S$500 and three months of jail. Repeat offenders can be fined for up to $2000 fine or six months in jail. It such a lot punishment.
There are also some other fine which is cannot find in any other country, such as:
- urinating
- leaving a public toilet un-flushed ($150 fined)
- flower picking ($50 fined)
- vandalizing ($2000 fined)
- importing or selling chewing gum (although now available at pharmacies if you ask for it directly, show your ID and sign the register.

The other regulation that I have heard is:
- wild animals banning being used in circus shows, such as tigers, lions, elephants and all other wild animals.
- road tax and radio car’s tax
- There is mosquito patrol that can enter your home without a warrant and check your flower pots for standing water, which also constitutes an offence.
- etc, etc.

There are some places that you cannot use handphone or skate-scootering or bringing pet. So you must be aware with the sign. You also cannot posting racist comments on the Internet since the internet content is controlled by government. Many places have CCTV cameras, so you will easily identified if you do wrong, even for foreigner cannot escape for the sentence.

No wonder that this country is called a fine city, because there are many things that are banned. The list maybe thousands long. But what the government get is a clean and well-arranged country.